Ditpolairud Polda NTT Berhasil Evakuasi 9 Awak KLM Helewa di Laut Sawu, Respons Cepat Selamatkan Nyawa
Ditpolairud Polda NTT Berhasil Evakuasi 9 Awak KLM Helewa di Laut Sawu, Respons Cepat Selamatkan Nyawa. (Foto: redSVG)
KUPANG — Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil mengevakuasi sembilan awak Kapal Layar Motor (KLM) Helewa yang mengalami kerusakan mesin saat berlayar di perairan Laut Sawu. Aksi penyelamatan dilakukan dalam kondisi cuaca buruk dan gelombang tinggi, sehingga menjadi tantangan besar bagi tim.
Evakuasi dilaporkan terjadi setelah Ditpolairud menerima informasi adanya kapal yang terombang-ambing dan membutuhkan bantuan darurat. Kapal Patroli KP. Kuda Laut-5017 langsung dikerahkan menuju lokasi untuk memastikan kondisi para awak sekaligus melakukan proses penyelamatan.
Awak Kapal dalam Kondisi Selamat Namun Kelelahan
Setibanya di lokasi, tim menemukan KLM Helewa dalam keadaan mati mesin dan tidak mampu bergerak. Gelombang tinggi yang terus menghantam lambung kapal meningkatkan risiko kapal terbalik.
Seluruh awak—sebanyak sembilan orang—berhasil dievakuasi ke Kapal Patroli. Mereka dilaporkan dalam kondisi selamat namun mengalami kelelahan setelah berjam-jam menunggu bantuan di tengah laut.
Langkah cepat Ditpolairud dinilai krusial mengingat kondisi cuaca di Laut Sawu yang dikenal ekstrem, terutama di musim angin kencang.
Koordinasi Cepat, Penyisiran Akurat
Dari laporan lapangan, tim Ditpolairud melakukan penyisiran secara akurat dengan mengikuti titik koordinat terakhir kapal. Kecepatan respons menjadi kunci karena keterlambatan sedikit saja dapat berakibat fatal mengingat ombak di Laut Sawu bisa mencapai 2–4 meter.
KLM Helewa kemudian ditarik ke lokasi aman untuk pemeriksaan lebih lanjut, memastikan tidak ada risiko tambahan bagi para awak maupun kapal.
Polairud Tegaskan Komitmen Pengamanan Perairan NTT
Ditpolairud Polda NTT menegaskan bahwa operasi penyelamatan ini merupakan bagian dari komitmen mereka menjaga keamanan dan keselamatan di wilayah perairan, termasuk memberikan respon cepat terhadap setiap laporan keadaan darurat.
Wilayah Laut Sawu, yang dikenal memiliki arus kuat dan cuaca tidak menentu, menjadi salah satu titik fokus patroli perairan. Evakuasi ini memperlihatkan kesiapsiagaan Polairud dalam menjalankan tugas kemanusiaan sekaligus mencegah potensi kecelakaan laut yang lebih besar.
Apresiasi Tinggi dari Masyarakat Pelayaran
Keberhasilan proses evakuasi ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat pelayaran, mengingat jalur laut di NTT sangat bergantung pada kapal-kapal kecil yang rawan mengalami gangguan teknis, khususnya pada musim gelombang tinggi.
{SVG}