Logo
CRIME WATCH.ID

KERJA BALAP DENGAN WAKTU! Tim DVI Polri Jemput Bola ke Lokasi Bencana, Wakapolri Pastikan Hasil DNA Keluar dalam 3 Hari—Keluarga Tak Lagi Dibiarkan Menunggu.

7208 views
Jumat, 05 Desember 2025 - 14:50 WIB Rambe
KERJA BALAP DENGAN WAKTU! Tim DVI Polri Jemput Bola ke Lokasi Bencana, Wakapolri Pastikan Hasil DNA Keluar dalam 3 Hari—Keluarga Tak Lagi Dibiarkan Menunggu.

KERJA BALAP DENGAN WAKTU! Tim DVI Polri Jemput Bola ke Lokasi Bencana, Wakapolri Pastikan Hasil DNA Keluar dalam 3 Hari—Keluarga Tak Lagi Dibiarkan Menunggu.. (Foto: Rambe)



Jakarta — 5 Desember 2025. Di tengah situasi bencana besar yang menimbulkan banyak korban, Polri mengambil langkah cepat dan agresif. Tim Nakes Disaster Victim Identification (DVI) Polri diterjunkan langsung ke lokasi bencana untuk mempercepat identifikasi korban, sementara Wakapolri memastikan hasil tes DNA kini bisa keluar hanya dalam waktu tiga hari, jauh lebih cepat dari standar sebelumnya.

Dua gebrakan ini diambil untuk mencegah keluarga korban terjebak dalam masa tunggu panjang yang menyiksa secara psikologis.

Jemput Bola di Lapangan: Tim Nakes DVI Menuju Titik-Titik Pencarian


Tidak menunggu korban dibawa ke fasilitas medis, Polri menerapkan pola “jemput bola”. Tim DVI langsung menyisir: Llokasi longsor, Bantaran sungai,Reruntuhan bangunan, Area tertutup lumpur.

Mereka melakukan identifikasi awal di lapangan, termasuk pengumpulan data primer seperti: Sidik jari, Ciri tubuh, Rekam gigi, Sampel biologis yang dibutuhkan untuk proses DNA.


“Kami tidak ingin keluarga menunggu dalam ketidakpastian. Identifikasi harus dilakukan sedini mungkin,” ujar perwakilan DVI Polri.

Semua tindakan dilakukan mengikuti standar internasional untuk memastikan akurasi tinggi meski kondisi korban sulit dikenali.


Wakapolri Pastikan Terobosan: Hasil DNA Kini Hanya 3 Hari

Dalam pernyataannya, Wakapolri menegaskan bahwa Polri kini mengoptimalkan laboratorium forensik sehingga proses identifikasi berbasis DNA bisa dipersingkat drastis.

Jika sebelumnya hasil DNA bisa memakan waktu 7–14 hari, kini laboratorium forensik Polri mampu mengeluarkan hasil:

Hanya dalam 72 jam.

Langkah ini dianggap revolusioner dalam penanganan bencana di Indonesia.

“Keluarga tidak boleh menunggu lama. Kepastian identitas korban harus diberikan secepat mungkin,” tegas Wakapolri.

Teknologi biometrik, sistem database digital, dan penambahan personel ahli menjadi kunci percepatan ini.


Fokus Utama Polri: Selamatkan Nyawa, Beri Kepastian, Pulihkan Martabat Korban

Tim DVI tidak hanya bertugas mengidentifikasi jenazah. Mereka juga:

  • Memeriksa kondisi kesehatan petugas lapangan,
  • Memberikan pertolongan pertama untuk relawan,
  • Memberi dukungan psikologis ringan kepada keluarga,
  • Menjaga rantai dokumentasi korban secara profesional.

Pendekatan ini memastikan para korban ditangani dengan hormat dan keluarga mendapatkan jawaban yang layak dalam waktu cepat.


Proses Identifikasi Dipercepat di Semua Tahapan

Percepatan dilakukan melalui:

  1. Pengumpulan data lebih cepat di lapangan lewat sistem mobile DVI.
  2. Digitalisasi seluruh data untuk mempercepat rekonsiliasi.
  3. Prioritas antrian DNA khusus korban bencana.
  4. Koordinasi intensif dengan rumah sakit rujukan dan posko keluarga.

Hasilnya, proses yang biasanya memakan waktu berhari-hari kini bisa dipadatkan dalam hitungan jam dan hari.


Tidak Ada Lagi “Menunggu Tanpa Jawaban”: Polri Tekankan Kemanusiaan sebagai Prioritas

Situasi bencana kerap meninggalkan luka batin mendalam, terutama ketika keluarga kehilangan orang terkasih dan terpaksa menunggu tanpa kepastian. Polri menegaskan bahwa pendekatan mereka kali ini berfokus pada: Kecepatan, Akurat, Empati, Perlindungan martabat korban, Memberikan ketenangan kepada keluarga.


Dengan tim DVI bergerak langsung dan hasil DNA yang dipercepat, keluarga korban kini tidak lagi harus menunggu dalam ketidakpastian yang menyakitkan.

Dua langkah besar Polri—DVI jemput bola ke lapangan dan hasil DNA dalam tiga hari—menunjukkan transformasi besar dalam penanganan korban bencana di Indonesia.

Kombinasi teknologi modern, tenaga ahli, dan pendekatan humanis kini menjadi standar baru identifikasi korban.

Perubahan ini diharapkan dapat mengurangi trauma keluarga, mempercepat proses pemakaman, dan memastikan setiap korban kembali kepada keluarganya dengan cara yang layak dan bermartabat.


{RAMBE}



BERITA TERKAIT