Polri Bongkar Modus Baru Rekrutmen Anak oleh Jaringan Terorisme: 110 Anak di 26 Provinsi Jadi Korban, KPAI Beri Apresiasi
Polri Bongkar Modus Baru Rekrutmen Anak oleh Jaringan Terorisme: 110 Anak di 26 Provinsi Jadi Korban, KPAI Beri Apresiasi. (Foto: Rambe)
Jakarta — Kepolisian Republik Indonesia mengungkap modus baru rekrutmen anak oleh jaringan terorisme yang memanfaatkan dunia digital seperti media sosial, grup pesan instan, hingga gim daring. Temuan ini mengidentifikasi lebih dari 110 anak di 26 provinsi yang terpapar dan direkrut secara terselubung oleh kelompok ekstremisme.
Pengungkapan ini membuat publik terkejut, sekaligus menunjukkan bahwa kelompok teror kini semakin agresif menyasar generasi muda dengan memanfaatkan kerentanan ruang digital.
Modus Terbaru: Anak Direkrut Lewat Game Online, Roleplay, dan Komunitas Tertutup
Hasil penyelidikan Densus 88 dan unit siber Polri mengungkap pola rekrutmen yang sangat terstruktur, antara lain:
- Pendekatan awal melalui game online
- Pelaku masuk ke ruang obrolan gim populer untuk mencari anak-anak yang aktif, labil, atau sering menyendiri.
- Pendekatan ideologi lewat konten roleplay
- Anak diarahkan untuk memainkan peran "pejuang", "syuhada", atau "komando" dalam narasi fiksi yang sebenarnya bermotif indoktrinasi.
- Pemindahan ke grup tertutup
- Setelah anak percaya, mereka diarahkan masuk ke grup Telegram, WhatsApp, atau Discord untuk menerima materi yang lebih ekstrem.
- Penugasan awal
- Anak diberi “misi” sederhana, seperti menyebar konten provokatif, hingga akhirnya masuk ke tahap lebih berbahaya.
Modus ini berhasil berjalan mulus karena anak-anak tidak menyadari bahwa mereka sedang direkrut jaringan terorisme.
Fakta Mencengangkan: Korban Tersebar di 26 Provinsi
Polri mencatat sedikitnya 110 anak ditemukan dalam proses rekrutmen, dengan rentang usia 11–17 tahun.
Korban tersebar di:
- Jawa
- Sumatera
- Kalimantan
- Sulawesi
- Bali dan Nusa Tenggara
- Papua
Temuan ini menegaskan bahwa rekrutmen bersifat nasional, bukan wilayah tertentu saja.
KPAI: Pengungkapan Polri Sangat Penting dan Menyelamatkan Banyak Anak
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan apresiasi tinggi kepada Polri atas pengungkapan ini.
KPAI menilai:
- Polri telah menyelamatkan puluhan anak dari ancaman radikalisasi.
- Jaringan teror sengaja menjadikan anak sebagai target empuk karena mudah dipengaruhi.
- Perlu kolaborasi erat antara orangtua, sekolah, dan aparat untuk mencegah kasus serupa.
KPAI juga mendesak penguatan literasi digital dan pemantauan ruang online yang aman bagi anak-anak.
Polri: Orangtua Harus Waspada, Terorisme Kini Menyasar Dunia Anak
Polri menyampaikan bahwa peran keluarga sangat vital. Orangtua diminta:
- Memantau aktivitas daring anak
- Mewaspadai perubahan perilaku tiba-tiba
- Mengecek grup atau komunitas digital yang diikuti anak
- Melaporkan segera jika menemukan konten yang mencurigakan
Polri menegaskan bahwa kasus ini menjadi alarm besar bahwa terorisme telah masuk ke ruang digital yang setiap hari diakses anak-anak.
Langkah Lanjut: Pemulihan Psikologis & Deradikalisasi Anak
Polri bekerja sama dengan:
- KPAI
- BNPT
- Psikolog forensik
- Lembaga perlindungan anak
untuk memastikan anak-anak yang terpapar mendapatkan:
- Pendampingan psikologis
- Pemulihan sosial
- Program deradikalisasi ringan
- Pengawasan rumah dan sekolah
Tujuannya memastikan anak kembali pada aktivitas normal tanpa trauma dan tanpa risiko rekrutan lanjutan.
Pengungkapan Polri ini bukan sekadar keberhasilan penegakan hukum, tetapi penyelamatan generasi. Modus rekrutmen lewat dunia digital menunjukkan bahwa terorisme terus beradaptasi, sehingga peran orangtua dan sekolah menjadi kunci utama dalam pencegahan.
{RAMBE}