Bareskrim Polri & FBI Ringkus Pasangan Mafia Siber di Kupang: Bobol 34.000 Korban Global, Kerugian Tembus Rp350 Miliar!
Bareskrim Polri & FBI Ringkus Pasangan Mafia Siber di Kupang: Bobol 34.000 Korban Global, Kerugian Tembus Rp350 Miliar!. (Foto: {RAMBE})
WAKABARESKRIM POLRI. IrjenPol Nunung Syaifuddin,S.I.K.,M.M.
JAKARTA – Sebuah prestasi gemilang dalam jagat keamanan digital kembali ditorehkan oleh Korps Bhayangkara. Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri resmi membongkar sindikat raksasa penyedia perangkat peretasan (phishing tools) lintas negara pada Rabu (22/4/2026).
Tak main-main, operasi yang melibatkan agen federal Amerika Serikat (FBI) ini berhasil meringkus dua aktor utama, GWL dan FYTP, di persembunyian mereka di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pasangan ini diduga menjadi otak di balik kerugian global fantastis senilai USD 20 juta atau setara Rp350 miliar.
Modus Operandi: Jualan "Senjata" Peretas Melalui W3LL.STORE
Wakabareskrim Polri, Irjen Pol Nunung Syaifuddin, mengungkapkan bahwa pengungkapan ini bermula dari patroli siber intensif yang mendeteksi aktivitas mencurigakan di situs www.w3ll.cc (W3LL.STORE). Situs tersebut ternyata menjadi swalayan digital bagi para penjahat siber dunia untuk membeli "senjata" peretasan.
Untuk menjerat pelaku, penyidik melakukan operasi senyap berupa Undercover Buy (pembelian terselubung) menggunakan aset kripto sebagai metode pembayaran guna memverifikasi kecanggihan alat tersebut.
"Penyidik berhasil mengungkap jaringan penjualan phishing tools internasional. Dari perbuatan tersangka ini, telah menyebabkan kerugian global sekitar Rp350 miliar. Ini adalah angka yang sangat masif dalam industri kejahatan digital," tegas Irjen Nunung dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan.
34.000 Korban Global & Ribuan Pelanggan Setia
Penyelidikan mendalam mengungkap fakta mengerikan mengenai skala operasional jaringan ini. Selama periode 2019 hingga 2024, tercatat sebanyak 2.440 pembeli aktif yang menggunakan jasa tersangka untuk melakukan serangan siber.
Dampaknya sangat destruktif. Total korban yang berhasil diidentifikasi mencapai 34.000 orang yang tersebar di berbagai belahan dunia. Alat yang diproduksi tersangka bukan sekadar mencuri data, melainkan menjadi pintu masuk bagi kejahatan yang lebih besar seperti:
- Penipuan Online massal.
- Pencurian Data Pribadi berskala besar.
- Business Email Compromise (BEC): Serangan yang menyasar transaksi keuangan perusahaan-perusahaan besar.
Penyitaan Aset "Sultan" Siber: Rp4,5 Miliar Diamankan
Selain menangkap kedua tersangka, polisi juga melakukan penyitaan terhadap berbagai aset yang diduga kuat hasil dari bisnis haram tersebut. Total nilai aset yang berhasil diamankan mencapai Rp4,5 miliar, yang terdiri dari:
- Kendaraan mewah roda empat dan roda dua.
- Tanah dan bangunan (Sertifikat Hak Milik).
- Dompet mata uang digital (Kripto).
- Berbagai perangkat keras elektronik canggih yang digunakan untuk operasional.
Sinergi Polri-FBI: Kejahatan Terorganisir Tak Kenal Batas
Irjen Nunung menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kolaborasi internasional yang solid. Mengingat sebagian besar korban berada di luar negeri, khususnya Amerika Serikat, Polri bekerja sama erat dengan FBI untuk melacak jejak digital dan aliran dana para pelaku.
"Kejahatan siber saat ini telah berkembang menjadi kejahatan terorganisir lintas negara. Phishing tools yang diperdagangkan oleh para pelaku menjadi pintu masuk bagi berbagai kejahatan digital lainnya. Kami tegaskan, tidak ada ruang lagi bagi pelaku kejahatan siber di Indonesia," ujar jenderal bintang dua tersebut.
Imbauan Bagi Masyarakat
Di akhir pernyataannya, Polri meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap keamanan data pribadi. Jangan pernah memberikan informasi sensitif kepada pihak yang tidak jelas dan segera laporkan aktivitas mencurigakan melalui kanal pengaduan siber Polri.
{RAMBE}