Viral di Instagram dan TikTok, Oknum Aparat Bentak Ketua Buruh di Jalan Rakuta Sembiring. Organisasi Hukum Bereaksi Keras!
Viral di Instagram dan TikTok, Oknum Aparat Bentak Ketua Buruh di Jalan Rakuta Sembiring. Organisasi Hukum Bereaksi Keras!. (Foto: {redSVG})
Atas, Gambar Ilustrasi
"KALAU TIDAK MAU ISTRI KALIAN JADI JANDA, JANGAN COBA-COBA GANGGU!" Oknum TNI di Pematangsiantar Diduga Intimidasi Buruh Pakai Embel-Embel Papua,
PEMATANGSIANTAR – Tindakan sewenang-wenang dan arogansi oknum aparat yang menindas hak-hak serta psikologis rakyat kecil kembali memicu gelombang kecaman hebat. Ruang negosiasi yang seharusnya berjalan secara adil dan bermartabat justru berubah menjadi panggung intimidasi yang sangat menakutkan bagi kaum pekerja.
Sebuah dugaan pelanggaran etika dan hukum berat yang melibatkan oknum anggota TNI kini mencuat ke permukaan di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara. Oknum tersebut diduga kuat melontarkan kalimat ancaman pembunuhan bernada keji di hadapan para buruh bongkar muat yang sedang memperjuangkan hak nafkah mereka. Kasus ini memicu reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat, kalangan pekerja, hingga organisasi bantuan hukum yang menuntut keadilan tegak lurus tanpa pandang bulu.
Kronologi Sengketa: Berawal dari Negosiasi Upah Bongkar Muat Pick-Up
Berdasarkan data dan laporan investigasi di lapangan, insiden memilukan ini terjadi di kawasan Jalan Rakuta Sembiring, Kota Pematangsiantar. Peristiwa bermula ketika kelompok buruh bongkar muat setempat tengah melakukan perundingan dan negosiasi mengenai tarif upah bongkar muat untuk satu unit mobil pick-up.
Proses diskusi yang awalnya berjalan normatif tersebut perlahan memanas karena hasil perundingan belum menemukan titik temu atau kesepakatan harga antara kedua belah pihak. Saat pembahasan kembali dilanjutkan untuk mencari jalan tengah, situasi justru mendadak mencekam. Seorang oknum TNI yang berada di lokasi kejadian tiba-tiba ikut campur dan mengeluarkan pernyataan lisan yang sangat tidak pantas. Bukannya membantu memediasi secara damai, oknum tersebut justru menggunakan seragam dan latar belakang militernya untuk menebar teror mental kepada para buruh.
Kesaksian Ketua Buruh: Diancam Nyawa dan Diseret Isu Penugasan Papua
Kengerian di ruang negosiasi tersebut diungkapkan langsung oleh Ketua kelompok buruh setempat. Dirinya mengaku mendengar dengan sangat jelas dan gamblang setiap bait kata bernada ancaman pembunuhan yang keluar dari mulut oknum aparat tersebut.
Kata-kata culas itu sengaja diembuskan untuk menghentikan perlawanan para buruh agar mereka tunduk dan merasa ketakutan.
"Kalau tidak mau istri kalian jadi janda, jangan coba-coba ganggu. Saya sudah capek membunuh di Papua sana," tiru Ketua kelompok buruh menirukan ucapan intimidasi sang oknum.
Pernyataan yang membawa-bawa rekam jejak penugasan di Papua tersebut dinilai sangat melukai hati rakyat sipil. Kalimat itu memicu ketakutan luar biasa di kalangan keluarga buruh yang merasa keselamatan nyawa mereka kini berada di bawah bayang-bayang ancaman senjata dan kekuasaan.
Desakan Hukum: Publik Minta Pimpinan TNI Tindak Tegas Oknum Pelaku!
Rekaman dan laporan mengenai dugaan intimidasi ini pun langsung viral dan menyebar luas di berbagai platform media sosial, termasuk jaringan video pendek TikTok dan Instagram. Netizen mengecam keras tindakan oknum tersebut yang dinilai menggunakan nama besar institusi TNI untuk kepentingan pribadi dan menakut-nakuti buruh kecil yang hanya mencari sesuap nasi.
Sejumlah organisasi bantuan hukum dan serikat pekerja di Sumatera Utara mengutuk keras peristiwa ini. Mereka mendesak agar Polisi Militer (PM) dan jajaran petinggi TNI Angkatan Darat segera turun tangan melakukan penyelidikan menyeluruh, memeriksa para saksi, dan menjatuhkan sanksi hukum serta disiplin yang seberat-beratnya kepada oknum yang bersangkutan.
Rakyat menegaskan bahwa TNI lahir dari rakyat dan bertugas untuk melindungi rakyat, bukan untuk menjadi alat menakut-nakuti buruh miskin dengan ancaman membuat istri mereka menjadi janda. Kasus ini harus dikawal ketat hingga tuntas demi tegaknya keadilan yang hakiki di bumi pimpinan pertiwi.
{redSVG}