VIRAL! Polisi Berlutut di Tengah Massa Bersenjata, Aksi Humanis Ini Gagalkan “Perang Tanding” di Manggarai
VIRAL! Polisi Berlutut di Tengah Massa Bersenjata, Aksi Humanis Ini Gagalkan “Perang Tanding” di Manggarai. (Foto: RAMBE)
Manggarai Memanas, Polisi Turun Tangan! Bentrokan Gagal Berkat Pendekatan Humanis
MANGGARAI – Sebuah aksi tak biasa dari aparat kepolisian viral di media sosial. Seorang anggota Polres Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), memilih berlutut di tengah jalan demi menghentikan bentrokan dua kelompok warga yang nyaris pecah menjadi perang tanding berdarah.
Peristiwa dramatis itu terjadi di Desa Bulan, Kecamatan Ruteng, Senin (16/3/2026), saat dua kelompok masyarakat adat—Gendang Bung Kaca dan Gendang Bung Leko—saling berhadapan hanya dalam jarak sekitar dua hingga tiga meter, masing-masing membawa senjata tajam.
Situasi saat itu sudah di ambang ledakan.
Namun yang terjadi justru di luar dugaan.
SCENE KRITIS: DETIK-DETIK NYARIS BENTROK
Di tengah ketegangan yang memuncak, seorang personel Bhabinkamtibmas maju ke tengah-tengah massa.
Ia tidak mengangkat senjata.
Ia tidak berteriak.
Ia justru bersimpuh dan berlutut, kedua tangannya terkatup di depan wajah, memohon agar kedua kubu menahan diri.
Aksi itu sontak mengubah suasana.
Emosi yang semula memuncak, perlahan mereda.
Pendekatan yang digunakan bukan kekuatan—melainkan kemanusiaan.
POLISI TURUN LANGSUNG, STRATEGI HUMANIS JADI KUNCI
Pengamanan di lokasi dipimpin langsung Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah bersama jajaran, termasuk Kasat Samapta, Kasat Intelkam, dan Kasat Binmas.
Saat tiba, aparat mendapati kondisi sudah panas dan sangat berisiko memicu korban jiwa.
Namun, alih-alih menggunakan pendekatan represif, Polri memilih jalur persuasif.
Kasi Humas Polres Manggarai, AKP Gusti Putu Saba Nugraha, menegaskan bahwa strategi humanis menjadi kunci utama dalam meredam konflik.
“Melalui negosiasi dan pendekatan kemanusiaan, personel berhasil menenangkan kedua pihak hingga situasi terkendali,” ujarnya.
AKAR MASALAH: SENGKETA TANAH ULAYAT
Konflik ini dipicu oleh sengketa tanah ulayat yang diklaim oleh kedua kelompok adat.
Ketegangan meningkat saat salah satu kelompok kembali dari lokasi lahan sengketa, lalu dihadang kelompok lainnya hingga akhirnya berhadapan di jalan raya.
Dalam hitungan detik, konflik horizontal nyaris berubah menjadi tragedi.
Beruntung, kehadiran cepat aparat dan pendekatan yang tepat berhasil mencegah bentrokan.
HASILNYA: DAMAI TANPA SATU PUN KORBAN
Setelah dialog intens yang difasilitasi aparat kepolisian, kedua kelompok akhirnya sepakat menahan diri dan kembali ke rumah adat masing-masing.
Tidak ada bentrokan.
Tidak ada korban.
Tidak ada darah.
Polisi bahkan mengawal warga hingga tiba di kampung masing-masing untuk memastikan situasi benar-benar aman.
POLRI PRESISI: KUAT TANPA KEKERASAN
Peristiwa ini menjadi contoh nyata implementasi pendekatan Polri Presisi—di mana kekuatan tidak selalu ditunjukkan dengan tindakan represif, tetapi dengan kemampuan membaca situasi dan mengedepankan kemanusiaan.
Di tengah ancaman konflik bersenjata, satu tindakan sederhana—berlutut—justru menjadi penentu keselamatan ratusan nyawa.
Langkah ini sekaligus memperlihatkan bahwa Polri tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penjaga harmoni sosial di tengah masyarakat.
Dari peristiwa ini, terlihat jelas bahwa:
Pendekatan humanis Polri mampu mencegah konflik besar tanpa kekerasan.
Di saat satu keputusan salah bisa memicu pertumpahan darah, strategi persuasif justru menjadi solusi paling efektif.
Dan dari Manggarai, publik menyaksikan satu hal penting:
Kadang, satu lutut yang menyentuh tanah… lebih kuat dari ratusan senjata.
{RAMBE}