Apa itu TCC / Komunitas True Crime dan Keterkaitannya Dengan Kasus di SMAN 72 JKT
Apa itu TCC / Komunitas True Crime dan Keterkaitannya Dengan Kasus di SMAN 72 JKT. (Foto: Rambe)
BNPT menyatakan bahwa pelaku ledakan di SMAN 72 “mengakses” grup yang disebut TCC (“True Crime Community”) — komunitas daring yang membahas kisah kejahatan nyata, modus, dokumentasi, dan fenomena kriminalitas secara luas. Dalam penyampaian BNPT, keterlibatan tidak langsung berarti komunitas tersebut sebagai organisasi kriminal, tetapi sebagai medium paparan ide kekerasan:. “Dia bisa meniru ide atau perilaku yang terjadi … supaya dibilang hebat, supaya ada kebanggaan.” — Komjen Eddy Hartono, Kepala BNPT.
Terminologi yang dipakai: “mimetic violence” atau “mimetic radicalization” — konsep psikologis di mana seseorang meniru perilaku agresif/kriminal yang dilihat dalam media sosial atau komunitas daring.
Catatan penting:
- Belum banyak data publik yang secara spesifik menganalisis TCC sebagai komunitas di Indonesia (jumlah anggota, struktur, aktivitas spesifik) sehingga banyak yang masih dalam tahap temuan awal dari penegak hukum.
- Paparan semacam ini menunjukkan arah bahwa selain faktor tradisional perekrutan ekstremisme, paparan daring terhadap ide/perilaku kekerasan bisa menjadi faktor risiko.
Risiko psikososial bagi pelajar dari paparan konten kekerasan daring
Walau belum banyak studi yang spesifik pada komunitas “true crime” di Indonesia, ada beberapa kajian terkait paparan media daring/konten kekerasan dan implikasi psikososial bagi remaja yang bisa dijadikan analogi:
- Penelitian menunjukkan bahwa ruang maya (virtual) dapat memiliki dampak pada “realitas nyata”, khususnya terkait agresi dan kejahatan:
- “Beberapa bukti dari penelitian psikologi membuktikan bahwa ruang virtual memberikan dampak pada ‘realitas nyata’, terutama agresi dan kejahatan.”
- Studi lain: hubungan antara penggunaan media sosial, moral disengagement, dan perilaku berisiko di kalangan remaja. Contoh: pada remaja pengguna media sosial di Pekanbaru, ditemukan bahwa peer influence dan moral disengagement berkorelasi dengan perilaku daring bermasalah.
- Studi di luar konteks langsung ke “true crime”, misalnya survei besar tentang bullying di sekolah menunjukkan bahwa siswa yang mengalami agresi memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami masalah emosional, perilaku, dan kesehatan mental.
Dari sini kita bisa menggarisbawahi faktor-risiko berikut bagi pelajar yang terpapar konten kekerasan/true crime:
- Paparan konten kekerasan secara daring dapat menormalisasi ide-kekerasan atau membuat seseorang menganggap bahwa melakukan aksi “besar” adalah cara mendapatkan pengakuan.
- Jika ada komunitas daring yang memuji atau “mendokumentasikan” kejahatan sebagai tontonan, maka remaja yang rentan dapat termotivasi untuk meniru demi “pengakuan/ketenaran”.
- Kurangnya literasi media, kontrol orang tua/pendidik, dan pengaruh teman sebaya (peer influence) dapat memperbesar risiko bahwa paparan tersebut mengubah norma/persepsi remaja terhadap kekerasan.
- Karena masih dalam tahap baru pemahaman, intervensi yang tepat (rehabilitasi psikologis, literasi digital, pengawasan komunitas daring) menjadi penting.
Implikasi untuk pencegahan dan rekomendasi
Berdasarkan uraian di atas, berikut beberapa rekomendasi yang bisa diterapkan oleh sekolah, orang tua, dan pemangku kebijakan:
- Literasi digital & media: Sekolah dan orang tua perlu memberikan edukasi kepada pelajar tentang bagaimana menilai konten daring — terutama konten kriminal/true crime — serta konsekuensi psikologisnya.
- Pengawasan konten dan komunitas daring: Perhatikan bahwa komunitas daring bisa menjadi medium paparan. Mendorong penggunaan internet secara sehat, diskusi terbuka tentang konten yang diakses, dan monitoring dapat membantu.
- Dukungan psikologis bagi pelajar: Bila ditemukan pelajar yang mulai terpapar ide kekerasan atau menunjukkan minat ekstrem, perlu adanya screening dan intervensi psikologis (misalnya konseling).
- Norma sosial & peer influence: Karena teman sebaya sangat memengaruhi, program di sekolah yang membangun norma anti-kekerasan dan mempromosikan pengakuan positif tanpa harus melalui “aksi ekstrem” menjadi penting.
- Kolaborasi antar lembaga: Seperti yang dilakukan BNPT bersama Kemen-PPPA, KPAI, sekolah dan orang tua — untuk pemetaan dan pencegahan risiko paparan konten ekstremisme/kekerasan di kalangan anak.
{SVG}