Logo
CRIME WATCH.ID

Atasi Ego Sektoral, Disertasi STIK Usul Polri Jadi Pemimpin Utama Penanganan Fraud Perbankan.

2357 views
Jumat, 17 April 2026 - 13:57 WIB {redSVG}
Atasi Ego Sektoral, Disertasi STIK Usul Polri Jadi Pemimpin Utama Penanganan Fraud Perbankan.

Atasi Ego Sektoral, Disertasi STIK Usul Polri Jadi Pemimpin Utama Penanganan Fraud Perbankan.. (Foto: {redSVG})



Sikat Mafia Perbankan! Polri Diusulkan Jadi 'Orkestrator' Tunggal Berantas Fraud: Dana Nasabah Harus Selamat dalam Hitungan Menit!


JAKARTA – Indonesia tengah menghadapi darurat kejahatan siber perbankan yang kian mengkhawatirkan. Data Indonesia Anti Scam Center (IASC) mencatat kerugian akibat scamming menembus angka Rp9,1 triliun, namun dana yang berhasil kembali ke tangan korban baru mencapai Rp161 miliar. Angka ini memicu tuntutan besar bagi Polri untuk mengambil alih komando sebagai "dirigen utama" atau lead orchestra dalam penanganan cybercrime nasional.

Gagasan revolusioner ini muncul dalam disertasi Nathalya Wani Sabu, Senior Advisor BCA sekaligus Ketua Komite Cyber Security Perbanas, yang mempertahankan temuannya di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Jakarta.


Polri Naik Kelas: Dari Penegak Hukum Menjadi Pengendali Operasional

Dalam skema "Pemolisian Kolaboratif" yang diusulkan, Polri didorong untuk tidak lagi sekadar bekerja di hilir. Meskipun OJK dan Bank Indonesia tetap menjadi pemimpin sektor (lead sector), Polri diusulkan memegang kendali operasional penindakan (lead orchestra).

"Kepolisian harus menjadi konduktornya. Karena polisi adalah penegak hukum yang punya kemampuan, kapasitas, dan kompetensi ke arah sana," ujar Wani Sabu usai sidang disertasinya, Senin (13/4/2026).

Langkah ini dianggap krusial untuk meruntuhkan tembok birokrasi antar-instansi yang selama ini sering terlambat menyelamatkan dana nasabah. Kecepatan adalah kunci, mengingat dalam hitungan menit, dana korban bisa berpindah ke puluhan rekening berbeda hingga masuk ke ekosistem fintech dan e-commerce.


Metode COBRA: Senjata Baru Polri Audit Ego Sektoral

Hambatan terbesar penyelamatan dana nasabah selama ini bukan pada teknologi, melainkan ego sektoral. Pakar keamanan siber, Pratama Persadha, menyebut kolaborasi antar-lembaga seringkali hanya sebatas jargon kualitatif tanpa penilaian terukur.

Sebagai solusi, Wani menawarkan instrumen COBRA (Collaborating Policing Readiness Assessment). Metode ini memungkinkan audit kinerja setiap instansi secara ilmiah dan terukur.

  • Eks Kabareskrim Komjen Pol (Purn) Arief Sulistyanto mengapresiasi temuan ini sebagai dukungan nyata bagi ilmu teknologi kepolisian.
  • Brigjen Pol Kif Aminanto (Direktur Pascasarjana STIK) menargetkan teori ini segera dibukukan dan diajukan kepada Kapolri untuk diterapkan di Direktorat Siber.


Mafia Siber Incar "Hari Libur" dan Gunakan Teknologi AI

Kehadiran Polri sebagai dirigen operasional semakin mendesak karena mafia siber kini kian canggih dan terorganisir. Pratama Persadha mengungkapkan para pelaku kerap menyerang pada akhir pekan atau hari libur saat respons bank melambat.

Modus yang digunakan pun sudah mencapai level Next-Gen:

  1. AI & Deepfake: Mengelabui verifikasi wajah (liveness check) untuk membobol kartu kredit.
  2. Kampung Jual Beli Rekening: Adanya ekosistem kriminal di dunia nyata di mana nomor rekening dijual murah seharga Rp200 ribu untuk memutar uang hasil tipuan.


Fokus Utama: "Asset Recovery", Bukan Sekadar Tangkap Pelaku

Transformasi ini menggeser fokus utama kepolisian. Di bawah kepemimpinan operasional Polri, target utamanya adalah pengembalian aset nasabah (asset recovery) secara maksimal guna menghindari total loss.

Masyarakat diharapkan tidak lagi "dipaksa ikhlas" ketika tabungannya dikuras, melainkan mendapatkan kepastian melalui pemblokiran instan yang terintegrasi di bawah komando Polri.


{redSVG}



BERITA TERKAIT