Logo
CRIME WATCH.ID

Badai PHK Massal Terus Berlanjut: 280 Pekerja PT Multistrada Arah Sarana Tbk (Merek Michelin) di Cikarang Jadi Korban

73 views
Jumat, 31 Oktober 2025 - 10:20 WIB Admin
Badai PHK Massal Terus Berlanjut: 280 Pekerja PT Multistrada Arah Sarana Tbk (Merek Michelin) di Cikarang Jadi Korban

Badai PHK Massal Terus Berlanjut: 280 Pekerja PT Multistrada Arah Sarana Tbk (Merek Michelin) di Cikarang Jadi Korban. (Foto: Admin)

Cikarang, Jawa Barat – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali menghantam sektor manufaktur Indonesia. Anak usaha merek ban global Michelin, PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA), mengonfirmasi telah melakukan PHK terhadap 280 tenaga kerja di pabriknya di Cikarang sebagai bagian dari langkah efisiensi. 

Manajer Komunikasi Korporat Michelin Indonesia, Monika Rensina, menyatakan bahwa keputusan ini diambil setelah melalui pertimbangan matang terkait penyesuaian kapasitas produksi dan struktur tenaga kerja demi menjaga daya saing dan keberlanjutan jangka panjang perusahaan. 

“Kami memahami bahwa situasi ini tidak mudah, namun keputusan ini diambil setelah pertimbangan matang. Penyesuaian ini merupakan langkah penting untuk menjaga daya saing dan memastikan keberlanjutan jangka panjang organisasi.” — Monika Rensina 


Efek Delisting dan Tekanan Industri

Seiring dengan PHK massal ini, MASA juga resmi melakukan delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 30 Oktober 2025 setelah melalui proses sesuai regulasi pencatatan efek. 

Menurut Ketua Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI), Aziz Pane, langkah PHK, tidak bisa dilepaskan dari beban biaya besar — terutama beban upah — di tengah melambatnya sektor manufaktur dan daya beli konsumen yang menurun.

Data menunjukkan bahwa Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur nasional turun menjadi 50,4 pada September 2025, menunjukkan perlambatan aktivitas pabrik secara keseluruhan.


Dampak dan Catatan Penting

  • PHK ini menunjukkan bahwa bahkan perusahaan yang terkait merek global masih rentan terhadap tekanan pasar domestik dan global.

  • Meski industri ban dianggap relatif tahan karena sifat barang yang esensial (komponen kendaraan), sektor ini kini menghadapi tantangan seperti oversupply dan berkurangnya investasi baru. 
  • Untuk pekerja yang terdampak, perusahaan menyampaikan bahwa mereka menyediakan paket kompensasi, pendampingan karier, dan akses ke sumber daya transisi kerja.


Kenapa Ini Penting untuk Diperhatikan

Langkah MASA ini menjadi indikator bahwa kondisi manufaktur Indonesia — khususnya sektor yang tergantung pada ekspor atau industri otomotif — sedang dalam fase penyesuaian yang cukup signifikan. Hal ini memperkuat peringatan bahwa penguatan daya beli domestik, inovasi produk, dan efisiensi operasional akan menjadi kunci supaya industri tetap tumbuh.


{SVG}



BERITA TERKAIT