Bhayangkara Sejati! Kisah Haru Briptu Petrus yang Wafat dalam Tugas Penjagaan Kedamaian Papua.
Bhayangkara Sejati! Kisah Haru Briptu Petrus yang Wafat dalam Tugas Penjagaan Kedamaian Papua.. (Foto: {RAMBE})
Gugur dalam Tugas di Tanah Papua: Selamat Jalan Briptu Petrus, Bhayangkara Sejati Penjaga Kedamaian Damai Cartenz
PAPUA – Kabar duka yang mendalam menyelimuti institusi Polri, khususnya jajaran Satgas Operasi Damai Cartenz. Salah satu putra terbaik bangsa, Briptu Petrus Febrian Batmanlusi, dilaporkan wafat saat menjalankan misi mulia di medan operasi Papua.
Briptu Petrus menghembuskan napas terakhirnya bukan karena kontak senjata, melainkan akibat keganasan penyakit malaria tertiana yang menyerangnya di tengah pengabdian menjaga kedaulatan NKRI.
Kronologi Perjuangan Melawan Malaria
Kepala Operasi Damai Cartenz, Irjen Pol Faizal Ramadhani, mengungkapkan bahwa almarhum sempat mengalami penurunan kesadaran secara mendadak sebelum dinyatakan meninggal dunia pada Minggu, 3 Mei 2026.
Kondisi kritis tersebut merupakan komplikasi dari riwayat penyakit malaria tertiana yang sebelumnya memang sudah dalam penanganan medis. Upaya penyelamatan nyawa Briptu Petrus pun telah dilakukan secara maksimal oleh tim medis di lapangan:
- Tindakan Awal: Tim kesehatan memberikan penanganan darurat segera setelah kondisi almarhum menurun di pos tugas.
- Rujukan Medis: Almarhum segera dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih intensif.
- Resusitasi: Upaya resusitasi jantung dan paru (RJP) intensif telah dilakukan oleh dokter spesialis di rumah sakit, namun takdir berkata lain.
Mengenal Bahaya Malaria Tertiana
Penyakit yang merenggut nyawa Briptu Petrus, malaria tertiana, merupakan jenis malaria yang memiliki karakteristik pola demam yang muncul setiap tiga hari sekali atau sekitar 48 jam. Gejala klinis yang dialami penderita meliputi:
- Demam tinggi yang berulang secara periodik setiap 48 jam.
- Gigil hebat yang dialami sesaat sebelum fase demam dimulai.
- Keringat berlebih saat suhu tubuh mulai menurun.
- Sakit kepala hebat, kondisi tubuh lemas, serta nyeri otot yang sangat mengganggu.
Penghormatan Terakhir bagi Sang Bhayangkara
Atas dedikasi yang tak terhingga dan pengabdian tanpa batas di wilayah konflik Papua, Irjen Pol Faizal Ramadhani menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatan setinggi-tingginya kepada almarhum.
"Terima kasih atas dedikasimu, sampai berjumpa kembali Petrus," tutup Irjen Pol Faizal dalam pernyataan resminya melalui akun Instagram Operasi Damai Cartenz.
Kepergian Briptu Petrus menjadi pengingat akan beratnya perjuangan personel Polri di daerah terpencil yang tidak hanya menghadapi ancaman keamanan, tetapi juga tantangan alam dan kesehatan yang mematikan. Selamat jalan, Briptu Petrus. Pengabdianmu abadi di hati rakyat Indonesia.
{RAMBE}