Logo
CRIME WATCH.ID

Blak-blakan Noel Akui Terima Rp3 Miliar, Dari Aktivis Satire hingga Dijuluki “Gembong”

4009 views
Selasa, 20 Januari 2026 - 10:01 WIB RAMBE
Blak-blakan Noel Akui Terima Rp3 Miliar, Dari Aktivis Satire hingga Dijuluki “Gembong”

Blak-blakan Noel Akui Terima Rp3 Miliar, Dari Aktivis Satire hingga Dijuluki “Gembong”. (Foto: RAMBE)

Pengakuan mengejutkan disampaikan Immanuel Ebenezer Gerungan atau yang akrab disapa Noel. Mantan aktivis yang dikenal vokal dengan gaya satire itu secara terbuka mengakui pernah menerima dana hingga Rp3 miliar, sebuah pernyataan yang langsung memantik polemik luas di ruang publik.

Noel tidak berkelit. Ia menyampaikan pengakuan tersebut secara terang-terangan, menegaskan bahwa dana yang diterimanya bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan berkaitan dengan aktivitas politik dan perjuangan yang kala itu ia yakini. Namun, pengakuan jujur ini justru menjadi bumerang. Di media sosial, Noel diserang dengan berbagai label, salah satunya disebut sebagai “gembong”, istilah yang dinilai menyudutkan dan berlebihan.


Menanggapi stigma tersebut, Noel menyatakan dirinya tidak pernah menutupi masa lalu. Ia menegaskan bahwa sejak awal ia selalu berbicara apa adanya, termasuk soal aliran dana dalam dinamika politik yang menurutnya kerap bersifat abu-abu. Noel menyebut, dalam praktik politik, idealisme sering kali berbenturan dengan realitas, dan tidak semua orang berani mengungkapkannya secara terbuka.

Ia juga mengkritik keras budaya politik yang gemar menghakimi tanpa melihat konteks. Menurut Noel, banyak pihak seolah menikmati narasi hitam-putih, seakan setiap dana yang diterima aktivis otomatis bermakna transaksi kepentingan. Padahal, kata dia, publik seharusnya mendorong transparansi, bukan justru menghukum orang yang berani jujur.


Di sisi lain, pengakuan ini memunculkan diskusi lebih luas soal pendanaan gerakan politik dan aktivisme di Indonesia. Sejumlah pengamat menilai pernyataan Noel membuka ruang refleksi penting: sejauh mana transparansi pendanaan dijalankan, dan bagaimana negara seharusnya mengatur relasi antara aktivis, kekuasaan, dan sumber dana agar tidak menimbulkan konflik kepentingan.


Hingga kini, Noel menegaskan tidak gentar menghadapi kritik. Ia menganggap label “gembong” sebagai bagian dari risiko politik yang harus diterima seseorang yang memilih bicara terbuka. Baginya, kejujuran—meski pahit—lebih bermartabat dibanding membangun citra bersih di atas kebohongan.


{RAMBE]



BERITA TERKAIT