Dari Anak Yatim Jadi Polisi, AKP Wasito Bangun Panti Gratis untuk 60 Anak di Bantul
Dari Anak Yatim Jadi Polisi, AKP Wasito Bangun Panti Gratis untuk 60 Anak di Bantul. (Foto: redSVG)
Gambar Ilustrasi
Bantul — Di tengah citra polisi yang kerap hanya dilihat melalui operasi penindakan dan patroli jalanan, kisah berbeda datang dari AKP Wasito, perwira Polri yang memilih mengabdikan hidupnya untuk membina puluhan anak yatim di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Perwira yang kini menjabat Kanit Regident Satlantas Polresta Sleman itu diketahui menjadi penggerak utama Panti Asuhan Al Dzikro di Kelurahan Wukirsari, Imogiri. Panti tersebut kini menampung sekitar 60 anak yatim dan yatim piatu yang seluruh kebutuhan hidup dan pendidikannya diberikan secara gratis.
Dedikasi sosial tersebut membuat AKP Wasito diusulkan sebagai salah satu kandidat Hoegeng Awards 2026, penghargaan yang diberikan kepada anggota Polri yang menunjukkan integritas dan pengabdian luar biasa kepada masyarakat.
Polisi yang Mengubah Nasib Anak Yatim
Lurah Wukirsari, Susilo Hapsoro, menilai sosok AKP Wasito tidak hanya dikenal sebagai aparat kepolisian, tetapi juga tokoh masyarakat yang memiliki kepedulian sosial tinggi.
“Beliau punya jiwa sosial yang sangat tinggi. Di masyarakat juga dikenal baik dan sering menginisiasi banyak kegiatan sosial,” ujar Susilo.
Menurutnya, keberadaan Panti Asuhan Al Dzikro justru semakin berkembang sejak Wasito dipercaya menjadi Ketua Yayasan. Pengelolaan panti bahkan dinilai sangat tertib hingga mendapat penghargaan peringkat ketiga panti asuhan terbaik di Kabupaten Bantul dari Dinas Sosial.
Panti ini juga bekerja sama dengan sejumlah lembaga pendidikan, termasuk MTs Negeri 3 Bantul, yang memberikan prioritas pendidikan bagi anak-anak yatim yang diasuh di sana.
Dari Musala Kecil Hingga Panti Asuhan
Jejak pengabdian Wasito dimulai jauh sebelum ia mengenakan seragam Polri. Ia justru pernah merasakan sendiri kehidupan sebagai anak yatim.
“Awalnya hanya langgar kecil di kampung. Waktu itu saya masih kelas 1 SD dan ikut mengaji bersama anak-anak yatim lainnya,” kata Wasito.
Langgar kecil tersebut kemudian berkembang menjadi cikal bakal Panti Asuhan Al Dzikro sejak tahun 1993. Pada 1997, tempat tersebut resmi mendapatkan izin sebagai panti asuhan.
Setelah dewasa, Wasito kembali ke tempat itu dan memilih menjadi pengurus. Bersama warga, ia membangun musala dan asrama bagi anak-anak yatim.
Namun perjalanan panti tidak selalu mulus. Gempa Yogyakarta 2006 sempat merusak bangunan musala. Peristiwa tersebut justru membuka pintu solidaritas.
“Setelah gempa banyak donatur yang datang membantu pembangunan kembali musala dan asrama,” kata Wasito.
Bangunan panti berdiri di atas tanah wakaf warga dan dibangun melalui gotong royong masyarakat sekitar.
Pendidikan Gratis Hingga Kuliah
Saat ini, konsep pendidikan di Panti Asuhan Al Dzikro menggabungkan pola pendidikan pesantren dan sekolah formal.
Setiap hari para santri menjalani aktivitas mulai dari tahajud, mengaji, sekolah formal, hingga kegiatan olahraga dan belajar kitab.
Seluruh biaya pendidikan anak-anak tersebut ditanggung yayasan.
“Anak-anak yang masuk di sini semuanya gratis. Dari SD sampai SMA, bahkan kalau ada yang mau kuliah juga kami bantu,” ujar Wasito.
Saat ini bahkan sudah ada satu alumni panti yang berhasil menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sarjana dengan pembiayaan dari yayasan.
Operasional Rp30 Juta per Bulan
Mengelola puluhan anak yatim tentu membutuhkan biaya besar. Wasito mengungkapkan operasional panti bisa mencapai Rp20 hingga Rp30 juta setiap bulan.
Dana tersebut berasal dari donatur serta kontribusi para pengurus.
Selain itu, panti juga mengembangkan usaha ekonomi produktif untuk menunjang operasional, seperti:
- Budidaya ikan lele
- Peternakan 35 kambing dan 4 sapi
- Sistem bagi hasil ternak dengan warga
Hasil usaha tersebut sepenuhnya digunakan untuk kebutuhan anak-anak panti.
Panti juga membuka rekening tabungan bagi setiap anak. Dana dari donatur yang diberikan langsung kepada anak akan disimpan hingga mereka lulus SMA.
“Tabungan itu bisa dipakai untuk modal kerja atau biaya kuliah setelah mereka keluar dari panti,” jelas Wasito.
Kolaborasi Polisi dan Masyarakat
Panti Asuhan Al Dzikro juga menjadi pusat kegiatan sosial di wilayah Wukirsari. Berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian, semaan Al-Qur’an, hingga buka puasa bersama rutin digelar dan melibatkan warga sekitar.
Yayasan juga mendapatkan dukungan dari Yayasan Kemala Bhayangkara, yang memberikan bantuan kolam budidaya ikan lele untuk memperkuat ekonomi panti.
Bagi Wasito, keberadaan panti ini bukan sekadar tempat tinggal anak yatim, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan kemandirian.
“Saya tidak ingin anak-anak yatim merasakan kesulitan seperti yang pernah saya alami dulu,” ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi institusi kepolisian, kisah AKP Wasito menjadi contoh bahwa pengabdian seorang polisi tidak hanya hadir di jalan raya atau ruang penyidikan.
Kadang, pengabdian itu justru tumbuh diam-diam — di sebuah panti asuhan kecil, tempat puluhan anak yatim belajar menata masa depan mereka.
{redSVG}