Logo
CRIME WATCH.ID

Dari Kekuasaan ke Pelayanan: Program Mudik Polri 2026 Dipuji,

33 views
Selasa, 24 Maret 2026 - 21:01 WIB redSVG
Dari Kekuasaan ke Pelayanan: Program Mudik Polri 2026 Dipuji,

Dari Kekuasaan ke Pelayanan: Program Mudik Polri 2026 Dipuji,. (Foto: redSVG)

Pengamat Politik Senior :  Boni Hargens Ph.D


TRANSFORMASI NYATA? Mudik Gratis Polri 2026 Disebut Bukti Perubahan dari ‘Kekuasaan’ ke ‘Pelayanan’

JAKARTA — Program Mudik Gratis Polri Presisi 2026 tak lagi dipandang sebagai agenda rutin tahunan. Di baliknya, muncul narasi besar: perubahan wajah institusi kepolisian dari simbol kekuasaan menjadi pelayan masyarakat.

Pengamat politik senior, Boni Hargens, menilai program ini sebagai bukti konkret transformasi budaya Polri yang selama ini kerap dipertanyakan publik. Bukan sekadar seremoni, tetapi pergeseran paradigma yang mulai terasa langsung di lapangan.

“Ini bukan program biasa. Ini transformasi dari power approach menuju servant approach,” tegas Boni.


Dari ‘Mengatur’ ke ‘Melayani’: Perubahan yang Mulai Terlihat

Selama bertahun-tahun, institusi kepolisian identik dengan pendekatan kekuasaan—mengatur, mengendalikan, bahkan dalam beberapa kasus dinilai berjarak dengan masyarakat.

Namun dalam momentum Idul Fitri 2026, pola itu mulai bergeser.

Program mudik gratis, pengawalan arus kendaraan, rekayasa lalu lintas berbasis data, hingga layanan informasi real-time menjadi wajah baru yang ditampilkan Polri di bawah kepemimpinan Listyo Sigit Prabowo.

Polisi tidak lagi sekadar “menjaga ketertiban”, tetapi hadir aktif:

  • membantu masyarakat pulang kampung dengan aman
  • meringankan beban ekonomi pemudik
  • memastikan perjalanan lebih tertib dan terkontrol

Dalam perspektif investigatif, pendekatan ini menunjukkan perubahan fungsi: dari otoritas menjadi fasilitator.


Lebih dari Program: Ini Pergeseran Budaya Institusi

Boni menegaskan, perubahan ini bukan kosmetik atau sekadar branding “Presisi”.

Transformasi yang terjadi bersifat struktural:

  • relasi polisi–masyarakat tidak lagi hierarkis
  • kewenangan tidak digunakan untuk dominasi
  • pendekatan pelayanan menjadi fondasi baru

Dalam model lama (power approach), polisi diposisikan sebagai pihak yang “memerintah”.

Kini, dalam servant approach, polisi hadir sebagai pelayan publik yang membantu, melindungi, dan memberdayakan.

Perubahan ini penting, karena selama ini jarak psikologis antara aparat dan masyarakat kerap menjadi sumber ketidakpercayaan.


Pengorbanan yang Tak Terlihat: Harga di Balik Keamanan

Namun di balik keberhasilan operasi mudik, ada sisi lain yang jarang disorot.

Salah satunya adalah gugurnya anggota Ditlantas Polda Metro Jaya, Brigadir Fajar Permana, saat menjalankan tugas pengamanan.

Peristiwa ini menjadi pengingat keras:

keamanan yang dirasakan jutaan pemudik bukan sesuatu yang datang begitu saja.

Ada risiko, ada pengorbanan, bahkan nyawa.

Boni menyebut, pengorbanan ini adalah bentuk paling autentik dari transformasi nilai di tubuh Polri.

“Ini bukan sekadar statistik pengabdian, tapi bukti nyata bahwa semangat pelayanan sudah meresap,” ujarnya.


Ujian Sesungguhnya: Konsistensi, Bukan Momentum

Meski mendapat apresiasi, pertanyaan krusial tetap muncul:

Apakah transformasi ini akan berlanjut di luar momentum mudik?

Atau hanya berhenti sebagai program musiman?

Karena perubahan sejati tidak diukur dari satu program sukses, melainkan dari konsistensi dalam setiap tindakan—baik di jalan raya, di ruang pelayanan publik, hingga dalam penegakan hukum.

Jika servant approach benar-benar menjadi identitas baru, maka Polri tidak hanya akan lebih dipercaya, tetapi juga lebih dekat dengan masyarakat.

Dan di situlah ujian sebenarnya dimulai.


{redSVG}


BERITA TERKAIT