Logo
CRIME WATCH.ID

Densus 88 Bongkar Grup TCC Penyebar Ekstremisme, 70 Anak Terjerat Komunitas Digital Berbahaya

9209 views
Kamis, 08 Januari 2026 - 11:01 WIB redSVG
Densus 88 Bongkar Grup TCC Penyebar Ekstremisme, 70 Anak Terjerat Komunitas Digital Berbahaya

Densus 88 Bongkar Grup TCC Penyebar Ekstremisme, 70 Anak Terjerat Komunitas Digital Berbahaya. (Foto: redSVG)


Jakarta – Fakta mengejutkan terungkap dari ruang digital. Densus 88 Antiteror Polri mengungkap nama dan aktivitas grup True Crime Community (TCC) yang terbukti menjadi wadah penyebaran paham ekstremisme, dengan puluhan anak di bawah umur ikut terlibat di dalamnya.

Dalam pengungkapan terbaru, Polri mencatat sedikitnya 70 anak tergabung dalam grup TCC, sebuah komunitas daring yang awalnya mengangkat tema kriminalitas, namun perlahan berubah menjadi ruang penyebaran narasi kekerasan, kebencian, dan glorifikasi pelaku ekstrem.


Modus Halus, Target Anak-Anak

Densus 88 menjelaskan, grup TCC tidak langsung menyebarkan paham ekstrem. Pola yang digunakan cenderung bertahap dan terselubung, dimulai dari:

  • Diskusi kasus kriminal dan kekerasan,
  • Berbagi konten visual yang ekstrem,
  • Normalisasi tindakan brutal dan ideologi menyimpang.

Seiring waktu, anak-anak yang tergabung mulai terbiasa dengan narasi kekerasan dan kehilangan sensitivitas moral, membuka celah masuknya paham ekstremisme.

“Ini bukan sekadar komunitas hobi. Ada pola pengkondisian psikologis yang berbahaya, terutama bagi anak-anak,” ungkap perwakilan Densus 88.


Ancaman Nyata di Ruang Digital

Keterlibatan anak dalam komunitas semacam ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. Dunia digital yang bebas, jika tanpa pengawasan, bisa berubah menjadi ruang rekrutmen ideologi berbahaya.

Polri menegaskan bahwa anak-anak yang terpapar diposisikan sebagai korban, sehingga penanganannya mengedepankan:

Pendekatan edukatif, Pendampingan psikologis, serta penguatan peran keluarga dan sekolah.


Peran Orang Tua dan Lingkungan

Densus 88 dan Polri mengimbau orang tua untuk lebih aktif memantau:

Aktivitas media sosial anak, komunitas daring yang diikuti, serta perubahan perilaku seperti isolasi, agresivitas, dan ketertarikan berlebihan pada konten kekerasan.

Pencegahan dinilai jauh lebih penting daripada penindakan, terutama demi menyelamatkan masa depan generasi muda.


Ekstremisme Tak Lagi Datang dengan Seragam

Kasus ini menegaskan bahwa ekstremisme kini tidak selalu hadir dalam bentuk organisasi formal. Ia bisa menyamar sebagai komunitas online, forum diskusi, hingga grup hobi, menjadikannya semakin sulit dikenali tanpa literasi digital yang kuat.


{redSVG



BERITA TERKAIT