Logo
CRIME WATCH.ID

Densus 88 Ungkap Ciri-Ciri Anak Terpapar Ekstremisme, Orang Tua Diminta Lebih Peka

6019 views
Kamis, 08 Januari 2026 - 10:24 WIB RAMBE
Densus 88 Ungkap Ciri-Ciri Anak Terpapar Ekstremisme, Orang Tua Diminta Lebih Peka

Densus 88 Ungkap Ciri-Ciri Anak Terpapar Ekstremisme, Orang Tua Diminta Lebih Peka. (Foto: RAMBE)

Jakarta – Ancaman ekstremisme kini tak lagi menyasar orang dewasa semata. Densus 88 Antiteror Polri mengungkap sejumlah ciri anak yang mulai terpapar paham ekstremisme, sebuah fenomena serius yang dinilai berbahaya bagi masa depan generasi muda dan keamanan nasional.

Penyidik Densus 88 menjelaskan, paparan ekstremisme pada anak umumnya terjadi secara bertahap, terutama melalui ruang digital, lingkungan pergaulan, dan doktrin ideologis tertutup yang masuk tanpa disadari.


Ciri-Ciri Anak Mulai Terpapar Ekstremisme

Menurut Densus 88, beberapa tanda yang perlu diwaspadai orang tua dan pendidik antara lain:

  • Perubahan sikap menjadi tertutup, eksklusif, dan mudah menghakimi
  • Menganggap kelompok atau pandangan tertentu sebagai musuh
  • Menolak simbol negara dan nilai kebangsaan
  • Mengakses konten digital bernuansa kekerasan atau kebencian
  • Mengidolakan tokoh atau kelompok ekstrem secara berlebihan

“Paparan ini sering kali dimulai dari narasi yang terlihat seolah religius atau idealis, tetapi perlahan mengarah pada pembenaran kekerasan,” ungkap perwakilan Densus 88.


Peran Keluarga Jadi Benteng Utama

Densus 88 menegaskan, keluarga adalah garda terdepan pencegahan ekstremisme pada anak. Orang tua diminta lebih aktif membangun komunikasi, memahami aktivitas digital anak, serta menanamkan nilai toleransi sejak dini.

Pendekatan pencegahan juga dilakukan melalui kerja sama dengan sekolah, tokoh masyarakat, dan lembaga terkait untuk memperkuat literasi kebangsaan dan moderasi beragama.


Pencegahan Lebih Penting dari Penindakan

Densus 88 menekankan bahwa penanganan ekstremisme pada anak harus mengedepankan pendekatan edukatif dan humanis, bukan semata-mata represif. Tujuannya agar anak dapat kembali ke jalur positif tanpa stigma sosial.

“Deteksi dini adalah kunci. Jika terlambat, dampaknya bukan hanya pada anak, tetapi juga lingkungan dan masa depan bangsa,” tegasnya.


{RAMBE}



Tag:

BERITA TERKAIT