Logo
CRIME WATCH.ID

Jelang Lebaran, Polisi Gagalkan Peredaran Uang Palsu Rp12 Miliar di Cirebon

1501 views
Rabu, 18 Maret 2026 - 19:50 WIB redSVG
Jelang Lebaran, Polisi Gagalkan Peredaran Uang Palsu Rp12 Miliar di Cirebon

Jelang Lebaran, Polisi Gagalkan Peredaran Uang Palsu Rp12 Miliar di Cirebon. (Foto: redSVG)


TERBONGKAR! Rp12 Miliar Uang Palsu Nyaris Beredar Jelang Lebaran, Polresta Cirebon Tangkap Pelaku Saat Mencetak

CIREBON – Menjelang lonjakan transaksi tunai Idulfitri, Polresta Cirebon berhasil menggagalkan peredaran uang palsu senilai fantastis Rp12 miliar. Pengungkapan ini menjadi bukti konkret respons cepat kepolisian dalam melindungi masyarakat dari potensi kerugian besar di momen krusial.

Tersangka berinisial S, warga Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, diamankan saat tengah mencetak uang palsu. Penangkapan ini bukan hasil kebetulan, melainkan tindak lanjut dari laporan masyarakat yang langsung direspons cepat oleh aparat kepolisian.

Kapolresta Cirebon, Imara Utama, menegaskan bahwa pengungkapan ini menjadi langkah preventif penting untuk mencegah meluasnya distribusi uang palsu di tengah tingginya aktivitas ekonomi menjelang Lebaran.

“Pengungkapan ini berhasil mencegah peredaran uang palsu dalam jumlah besar ke masyarakat,” ujarnya.


Jejak Produksi Terbongkar: Dari Printer hingga Mesin Hologram

Dalam penggerebekan tersebut, polisi menemukan skala produksi yang tidak biasa. Barang bukti yang diamankan menunjukkan bahwa pelaku tidak sekadar mencoba-coba, tetapi sudah membangun sistem produksi yang terstruktur.

Barang bukti yang disita antara lain:

  • 607 lembar uang palsu pecahan Rp100 ribu
  • 100 lembar hasil cetakan awal
  • 52 rim kertas doorslag
  • 1 dus uang palsu setengah jadi
  • Laptop dan printer
  • Mesin hologram dan mesin penghitung uang
  • Alat pengikat uang serta alat deteksi infrared

Temuan ini mengindikasikan bahwa pelaku berupaya serius meniru berbagai fitur keamanan uang asli.


Modus Canggih, Tapi Gagal Lolos Sistem

Dari hasil analisis bersama Bank Indonesia, uang palsu tersebut sekilas memang menyerupai uang asli. Namun, perbedaannya mulai terlihat saat diuji lebih detail.

Deputi KPw BI Cirebon, Himawan, menjelaskan bahwa pelaku menggunakan kertas doorslag biasa, bukan serat kapas seperti uang asli. Selain itu, efek hologram dan benang pengaman hanya tiruan.

“Secara kasat mata mirip, tapi saat diperiksa lebih dalam—baik dari bahan, warna, maupun uji ultraviolet—terlihat jelas tidak presisi,” ungkapnya.

Hal ini menunjukkan bahwa meski pelaku mencoba meniru teknologi pengamanan, kualitasnya masih jauh dari standar resmi Bank Indonesia.


Peran Kunci Polri: Dari Informasi Warga hingga Tangkap Tangan

Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi respons cepat Polri dalam menindaklanjuti laporan masyarakat. Informasi awal yang masuk langsung dikembangkan melalui penyelidikan hingga akhirnya polisi melakukan penangkapan saat pelaku sedang beraksi.

Pendekatan ini menegaskan bahwa Polri tidak hanya bertindak reaktif, tetapi juga proaktif dalam mencegah kejahatan ekonomi yang dapat merugikan masyarakat luas.

Langkah cepat ini dinilai krusial, mengingat momen Idulfitri identik dengan peningkatan perputaran uang tunai yang kerap dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan.


Ancaman Nyata Jelang Lebaran

Kasus ini menjadi peringatan serius bahwa peredaran uang palsu masih menjadi ancaman nyata, terutama saat aktivitas ekonomi meningkat tajam.

Jika tidak diungkap, uang palsu senilai Rp12 miliar tersebut berpotensi menyebar luas di pasar tradisional hingga pusat perbelanjaan, menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat.

Polri pun mengimbau masyarakat untuk lebih teliti saat menerima uang, dengan menerapkan metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang) serta memanfaatkan alat bantu jika diperlukan.

Pengungkapan ini memperlihatkan satu hal yang jelas:

Polri berhasil memutus rantai peredaran uang palsu sebelum menyentuh masyarakat luas.

Dari laporan warga hingga penangkapan langsung di lokasi produksi, seluruh proses menunjukkan kerja cepat, terukur, dan berbasis bukti.

Kini, penyidikan masih terus dikembangkan untuk mengungkap kemungkinan adanya jaringan lain di balik produksi uang palsu tersebut.

Pertanyaannya tinggal satu:

Apakah pelaku ini bekerja sendiri, atau bagian dari jaringan yang lebih besar?


{redSVG}



BERITA TERKAIT