Kisah : Integritas vs Kekuasaan! Pilihan Sulit Endriartono Sutarto yang Jadi Sorotan
Kisah : Integritas vs Kekuasaan! Pilihan Sulit Endriartono Sutarto yang Jadi Sorotan. (Foto: RAMBE)
KISAH INSIRATIF : MUNDUR DEMI PRINSIP!
Keputusan Mengejutkan Endriartono Sutarto yang Mengguncang Elite Kekuasaan
JAKARTA — Di tengah hiruk-pikuk transisi kekuasaan pasca reformasi, sebuah langkah tak biasa datang dari pucuk tertinggi militer Indonesia. Oktober 2004 menjadi momen yang tak mudah dilupakan, ketika Endriartono Sutarto secara tiba-tiba memilih mundur dari jabatannya sebagai Panglima TNI—sebuah posisi strategis yang jarang sekali ditinggalkan sebelum masa tugas berakhir. Keputusan ini sontak memicu spekulasi, sekaligus membuka perdebatan publik tentang makna kepemimpinan dan integritas di lingkar kekuasaan.
Langkah tersebut disampaikan langsung kepada Presiden saat itu, Megawati Sukarnoputri. Namun, di balik keputusan yang tampak sederhana itu, tersimpan pertimbangan mendalam yang mencerminkan cara pandang seorang jenderal terhadap masa depan institusi yang ia pimpin. Endriartono tidak sekadar mundur—ia sedang mengirim pesan.
Antara Kekuasaan dan Regenerasi
Dalam perspektif investigatif, pengunduran diri ini bukan sekadar keputusan personal. Ada konteks yang lebih luas: kebutuhan mendesak akan restrukturisasi di tubuh TNI. Pada masa itu, reformasi militer masih berada dalam fase krusial—menuntut perubahan kultur, sistem, hingga regenerasi kepemimpinan.
Endriartono menilai bahwa dirinya, yang masa pensiunnya telah diperpanjang dua tahun, justru bisa menjadi penghambat proses regenerasi tersebut. Ia memilih mundur bukan karena tekanan, melainkan karena kesadaran: institusi lebih besar daripada individu.
Langkah ini menjadi langka. Di tengah budaya kekuasaan yang cenderung mempertahankan jabatan selama mungkin, keputusan untuk melepaskan posisi strategis justru menunjukkan keberanian yang tidak biasa.
Sikap yang Berulang: Dari TNI ke Pertamina
Menariknya, sikap ini tidak berhenti di dunia militer. Setelah purnatugas, Endriartono dipercaya menduduki posisi komisaris di Pertamina—sebuah jabatan prestisius dengan kompensasi besar.
Namun lagi-lagi, ia memilih mundur.
Alasannya sederhana, tapi jarang terdengar dari elite: ia merasa tidak nyaman menerima penghasilan besar tanpa kontribusi yang menurutnya sepadan. Dalam sudut pandang lain, ini bukan sekadar soal jabatan—ini soal etika kerja dan tanggung jawab moral.
Ia juga menyoroti kinerja perusahaan yang dinilai belum optimal dalam melayani kepentingan publik, meski bergerak di sektor strategis energi. Kritik tersebut memperlihatkan bahwa posisinya bukan sekadar simbolik, tetapi tetap kritis dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Benturan Nilai di Balik Keputusan
Pandangan ini diperkuat oleh Chappy Hakim, yang menyebut keputusan Endriartono sebagai hasil benturan antara nilai pribadi dengan realitas institusi. Dalam banyak kasus, kompromi menjadi jalan tengah. Namun tidak bagi Endriartono.
Ia memilih jalan yang lebih sulit: mundur.
Dalam konteks kekuasaan, keputusan seperti ini bisa dianggap sebagai “anomali”. Tapi justru di situlah letak nilai historisnya. Ia menghadirkan standar lain tentang kepemimpinan—bahwa integritas bukan hanya slogan, tetapi pilihan nyata yang sering kali menuntut pengorbanan.
Warisan yang Jarang Terulang
Kisah Endriartono Sutarto menjadi refleksi penting di tengah dinamika kepemimpinan modern. Di saat jabatan kerap dipertahankan mati-matian, ia justru menunjukkan bahwa mundur bisa menjadi bentuk tanggung jawab tertinggi.
Ini bukan sekadar cerita tentang seorang jenderal. Ini adalah catatan sejarah tentang bagaimana prinsip, etika, dan keberanian bisa berdiri di atas kepentingan pribadi.
Dan pertanyaannya kini mengemuka:
di tengah sistem yang kompleks dan penuh kompromi, masih adakah pemimpin yang berani mengambil jalan seperti ini?
{RAMBE}