Logo
CRIME WATCH.ID

Lebih Baik Jadi Petani daripada Menteri Kepolisian: Sikap Tegas Kapolri Jaga Marwah Polri Tetap di Bawah Presiden.

13394 views
Selasa, 27 Januari 2026 - 10:01 WIB RAMBE
Lebih Baik Jadi Petani daripada Menteri Kepolisian: Sikap Tegas Kapolri Jaga Marwah Polri Tetap di Bawah Presiden.

Lebih Baik Jadi Petani daripada Menteri Kepolisian: Sikap Tegas Kapolri Jaga Marwah Polri Tetap di Bawah Presiden.. (Foto: RAMBE)




Jakarta — Pernyataan tegas Jenderal Listyo Sigit Prabowo kembali menjadi sorotan publik nasional. Di tengah derasnya wacana pembentukan Kementerian Kepolisian, Kapolri secara terbuka menegaskan bahwa dirinya lebih memilih pulang kampung menjadi petani ketimbang harus memimpin kepolisian di bawah struktur kementerian.

Sikap tersebut disampaikan Kapolri dalam forum resmi bersama Komisi III DPR RI. Pernyataan itu sontak menuai respons luas, bukan hanya karena nadanya yang lugas, tetapi karena pesan prinsipil yang dikandungnya: Polri harus tetap independen dan berada langsung di bawah Presiden Republik Indonesia, sebagaimana amanat konstitusi dan reformasi sektor keamanan.


Bukan Soal Jabatan, Tapi Prinsip Konstitusi

Penolakan Kapolri terhadap tawaran jabatan menteri bukanlah ekspresi emosional atau retorika politik. Pernyataan itu justru mencerminkan keteguhan sikap seorang pemimpin institusi yang memahami risiko pelemahan kewenangan Polri bila berada di bawah struktur kementerian.

Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia memiliki posisi strategis sebagai alat negara penegak hukum yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Perubahan struktur menjadi kementerian berpotensi menciptakan tumpang tindih kewenangan, intervensi politik, hingga mengganggu independensi penegakan hukum.

“Lebih baik jadi petani” bukan simbol mundur, melainkan simbol perlawanan terhadap kompromi nilai.


Pesan Keras: Polri Tidak Bisa Ditawar

Di tengah tantangan besar seperti kejahatan siber, narkotika, terorisme, konflik sosial, hingga penegakan hukum berkeadilan, Kapolri justru menegaskan bahwa jabatan bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah menjaga marwah institusi dan kepercayaan publik terhadap Polri.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Polri di bawah kepemimpinan Jenderal Sigit tidak sedang mencari kekuasaan, melainkan berupaya menjaga profesionalisme dan stabilitas sistem hukum nasional.

Tak berlebihan jika sikap ini dinilai sebagai tamparan halus bagi pihak-pihak yang ingin menarik Polri ke dalam tarik-menarik kepentingan politik.


Reformasi Polri Tidak Butuh Kementerian

Gagasan reformasi Polri sejatinya sudah berjalan melalui penguatan pengawasan internal, transparansi, digitalisasi layanan, serta pendekatan humanis dalam penegakan hukum. Semua itu tidak membutuhkan perubahan struktur menjadi kementerian.

Justru, langkah Kapolri menunjukkan bahwa reformasi sejati lahir dari integritas kepemimpinan, bukan dari penambahan lembaga atau jabatan baru.


Konklusi: Kepemimpinan yang Langka

Di era ketika banyak elite berlomba mempertahankan kursi kekuasaan, sikap Kapolri yang siap “menjadi petani” demi prinsip adalah potret kepemimpinan langka. Pernyataan ini mempertegas satu hal: Polri harus kuat, independen, dan setia pada konstitusi—bukan pada jabatan.

Dan di titik inilah, publik kembali diingatkan bahwa menjaga Polri tetap di bawah Presiden bukan sekadar soal struktur, melainkan soal masa depan penegakan hukum Indonesia.


OPINI : RAMBE



BERITA TERKAIT