Menyoal 4 Kali Teror Peluru Nyasar di Kampus UNP: Di Mana SOP Keselamatan Latihan Tembak TNI?!
Menyoal 4 Kali Teror Peluru Nyasar di Kampus UNP: Di Mana SOP Keselamatan Latihan Tembak TNI?!. (Foto: {RAMBE})
Gambar Ilustrasi
NYAWA MAHASISWA DIUJUNG PELURU!
PADANG, INVESTIGASI – Kampus yang sejatinya menjadi ruang sakral bagi mimbar akademik dan zona aman bagi generasi muda, mendadak berubah menjadi medan horor yang mengancam nyawa. Tragedi berdarah kembali mengguncang Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatra Barat, pada Selasa sore, 2 Juni 2026. Dua orang warga sipil ambruk bersimbah darah setelah diterjang peluru nyasar (rekoset) tepat di alun-alun depan Gedung Rektorat UNP—sebuah area terbuka yang selalu padat oleh aktivitas mahasiswa.
Insiden ini bukan lagi sekadar "kecelakaan teknis biasa." Rekam jejak investigasi menunjukkan fakta yang mencengangkan sekaligus mengerikan: ini adalah kali keempat peluru nyasar menembus benteng akademis UNP! Publik kini bergolak dan mempertanyakan komitmen perlindungan hak hidup warga sipil: Sampai kapan masyarakat harus bertaruh nyawa di bawah bayang-bayang kelalaian Standar Operasional Prosedur (SOP) latihan tembak militer? Mengapa keselamatan warga seolah dinomorduakan di balik moncong senjata?
Kronologi Horor Sore Hari: Dari Sukacita Komprehensif Berujung Operasi Darurat
Selasa sore, sekitar pukul 16.30 hingga 17.00 WIB, suasana di alun-alun Rektorat UNP Air Tawar dipenuhi aura kebahagiaan. Sejumlah mahasiswa baru saja menyelesaikan ujian komprehensif dan seminar proposal. Mereka tengah berkumpul, duduk santai, dan berswafoto merayakan pencapaian akademik tersebut.
Tanpa peringatan, desingan peluru merobek udara. Dua orang seketika tumbang akibat hantaman proyektil tajam. Korban pertama adalah Nova Wirantika (25), mahasiswi Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP. Nova mengalami luka tembak serius di mana proyektil besi bersarang di paha kirinya. Ia harus dilarikan ke RS Hermina Padang untuk menjalani tindakan operasi darurat malam itu juga.
Korban kedua adalah Guruh Guino (23), warga sipil (bukan mahasiswa) yang saat itu sedang menemani kerabatnya di kampus. Guruh mengalami luka robek di bagian atas pergelangan tangan dan harus dirujuk ke Rumah Sakit Tentara (RST) Reksodiwiryo guna perawatan intensif.
Skandal Berulang: Menolak Lupa, Jejak Digital 4 Kali Kampus UNP Dihujani Peluru
Sekretaris UNP, Erianjoni, membenarkan bahwa teror peluru nyasar kali ini merupakan yang paling parah, sekaligus menambah catatan kelam bagi lingkungan kampus. Berdasarkan penelusuran dokumen dan jejak digital, ruang publik UNP telah berulang kali menjadi sasaran empuk proyektil liar:
- Tahun 2010: Seorang mahasiswi Jurusan Sosiologi terluka akibat hantaman peluru nyasar.
- Tahun 2017: Peluru tajam merusak jendela kaca di Lantai 3 Gedung Rektorat UNP. Polisi menemukan dua butir proyektil di lokasi.
- Tahun 2020: Pada bulan Februari, kaca gedung Rektorat kembali hancur. Proyektil peluru berukuran kaliber 5,56 milimeter ditemukan tergeletak di lantai 3 gedung LP2M.
- Tahun 2026 (Sekarang): Dua orang warga sipil langsung menjadi korban luka tembak di area terbuka kampus.
Satu proyektil nyasar mungkin bisa disebut kebetulan. Namun, jika benda mematikan itu sudah empat kali masuk ke area institusi pendidikan dan melukai manusia, ini adalah bentuk kecerobohan sistemis yang mengancam keselamatan publik!
Menuntut Akuntabilitas: Latihan Tembak TNI Berjarak 800 Meter, Di Mana Jaminan Keamanan?
Dugaan kuat mengarah bahwa peluru rekoset mematikan ini berasal dari lokasi latihan menembak TNI yang berada di kawasan Lapai (Batalion DTP Singgalang), yang letaknya hanya berjarak sekitar 800 meter dari Kampus Induk UNP. Pihak TNI sendiri mengonfirmasi bahwa pada hari kejadian, prajurit memang tengah menggelar latihan menembak sejak pagi hingga sore hari.
Kapendam XX Tuanku Imam Bonjol, Letkol Kav Taufiq, menyatakan pihak TNI fokus pada penanganan korban dan berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh. Namun, pernyataan teknis bahwa "lapangan tembak sudah standar, sudah diteliti lebar dan tingginya" langsung memicu kritik tajam dari para aktivis pro-demokrasi dan hak asasi manusia.
Jika lapangan tembak tersebut diklaim sudah memenuhi standar keamanan, bagaimana mungkin peluru tajam kaliber militer bisa melesat sejauh hampir satu kilometer dan bersarang di paha seorang mahasiswi yang sedang duduk di lingkungan kampusnya sendiri? Secara sosiologis dan humanis, keberadaan lapangan tembak militer yang berdekatan dengan kawasan padat penduduk, pemukiman, dan fasilitas pendidikan seperti kampus UNP, merupakan bom waktu yang mengintai nyawa warga setiap saat. Sudah saatnya otoritas pertahanan meninjau ulang kelayakan lokasi lapangan tembak tersebut.
Demokrasi Menuntut Transparansi: Stop Evaluasi di Atas Kertas!
Masyarakat Sumatra Barat dan publik nasional mendesak adanya investigasi yang transparan, akuntabel, dan independen. Penyelidikan tidak boleh berjalan mandek di internal atau sekadar berakhir dengan santunan pengobatan. Harus ada audit forensik menyeluruh terhadap:
- Apakah ada pelanggaran disiplin dalam penggunaan jenis senjata dan amunisi saat latihan?
- Mengapa tanggul penahan peluru di lapangan tembak gagal menghentikan peluru rekoset?
- Mengapa tidak ada zona aman (buffer zone) yang memadai antara lapangan latihan militer dengan ruang publik sipil?
Prinsip demokrasi menegaskan bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat, dan hak atas rasa aman serta hak hidup warga negara dilindungi oleh konstitusi. Ruang akademik harus steril dari segala bentuk ancaman kekerasan, baik sengaja maupun akibat kelalaian teknis. Pimpinan UNP yang dipimpin oleh Rektor Krismadinata telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan jajaran petinggi TNI (Pangdam, Kasdam, Danrem) untuk mengusut tuntas asal proyektil misterius ini.
Publik kini mengawal ketat: Jangan biarkan ada korban kelima! Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi yang harus ditegakkan di atas ego sektoral mana pun.
{RAMBE}