“Miris! Prajurit TNI Curi Uang Kotak Amal Demi Menjenguk Orangtua — Vonis Ringan Tapi Luka Moral Dalam”
“Miris! Prajurit TNI Curi Uang Kotak Amal Demi Menjenguk Orangtua — Vonis Ringan Tapi Luka Moral Dalam”. (Foto: Rambe)
Sebuah kisah memilukan datang dari dunia militer Indonesia. Seorang prajurit TNI berinisial Pratu Fahdil Shaifonna nekat mencuri uang kotak amal di masjid hanya untuk satu alasan sederhana: ingin menjenguk orang tuanya yang sakit di kampung halaman. Aksi kecil bernilai ratusan ribu rupiah itu kini menjadi sorotan nasional dan simbol tekanan ekonomi di tubuh prajurit muda.
Tiga Kasus Serupa
1. Kasus Pratu Fahdil di Sumatera Utara (11 November 2025)
Pratu Fahdil Shaifonna, prajurit aktif TNI AD, tertangkap CCTV mengambil uang infak di sebuah masjid di Kabupaten Langkat. Dalam persidangan di Pengadilan Militer I-02 Medan, Fahdil mengaku terpaksa melakukannya karena tak punya biaya untuk pulang menjenguk orang tuanya yang sedang sakit keras. Ia divonis 3 bulan penjara dengan pertimbangan bahwa perbuatannya terjadi karena faktor ekonomi dan rasa bakti pada orang tua.
2. Kasus Serupa di Gresik (2024–2025)
Kasus ini hampir identik. Seorang prajurit TNI lainnya tertangkap mencuri uang kotak amal masjid di Desa Benjeng, Gresik, karena kehabisan uang setelah gajinya terpotong untuk utang pribadi. Ia divonis 3 bulan penjara oleh Mahkamah Militer Surabaya.
Meski nilainya hanya puluhan ribu rupiah, aksi itu viral karena dilakukan oleh aparat berseragam — mencederai citra TNI di tengah masyarakat.
3. Kasus Pratu Shaifonna
Dalam sidang Mahkamah Militer I Medan, jaksa menyebut tindakan Pratu Shaifonna melanggar pasal 103 KUHPM tentang pencurian oleh militer. Namun hakim mempertimbangkan latar belakang kemanusiaan dan beban psikologis terdakwa, serta menilai bahwa pelaku tidak memiliki niat jahat melainkan desakan emosional karena keluarga sakit.
Fenomena ini memperlihatkan sisi kerentanan ekonomi di kalangan prajurit bawah yang jarang terekspos publik. Dengan gaji pokok yang relatif kecil, banyak prajurit muda terjebak tekanan finansial, terutama mereka yang bertugas jauh dari keluarga.
Selain itu, kasus ini menjadi tamparan moral bagi institusi TNI — menunjukkan pentingnya pembinaan mental, kesejahteraan personel, dan akses bantuan sosial internal yang memadai.
“Ketika prajurit rela mempertaruhkan kehormatan demi uang infak yang tak seberapa, itu artinya ada luka yang lebih dalam di tubuh sistem kesejahteraan militer,” ujar seorang pengamat militer dari UI, menyoroti kasus tersebut.
Kasus ini bukan sekadar tentang uang infak yang raib. Ia adalah potret kecil dari tekanan besar di balik seragam loreng. Prajurit muda yang seharusnya jadi garda depan pertahanan negara justru berjuang melawan kekosongan dompet dan beban keluarga.
Vonis tiga bulan mungkin ringan di mata hukum, tapi berat di mata publik — karena menunjukkan bahwa di balik kedisiplinan militer, masih ada manusia yang bisa kalah oleh keadaan.
{SVG}