Logo
CRIME WATCH.ID

OPINI : Bukan Bela Negara Tapi Masuk Barak? Menakar Relevansi Pelatihan TNI bagi Mahasiswa Magister dan Doktor LPDP.

8840 views
Selasa, 05 Mei 2026 - 11:18 WIB OPINI {RAMBE}
OPINI : Bukan Bela Negara Tapi Masuk Barak? Menakar Relevansi Pelatihan TNI bagi Mahasiswa Magister dan Doktor LPDP.

OPINI : Bukan Bela Negara Tapi Masuk Barak? Menakar Relevansi Pelatihan TNI bagi Mahasiswa Magister dan Doktor LPDP.. (Foto: OPINI {RAMBE})

Gambar Ilustrasi

Barak Tentara untuk Calon Doktor?, Mengapa? Urgensi Militerisme dalam Pembekalan LPDP 2026


JAKARTA – Sebuah pemandangan kontras tersaji di Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma awal Mei ini. Sebanyak 206 intelektual muda—calon magister dan doktor penerima beasiswa LPDP 2026—harus menanggalkan kenyamanan akademik mereka untuk masuk ke barak militer. Di bawah pengawasan personel TNI, para awardee ini diwajibkan mengikuti serangkaian aktivitas fisik, termasuk latihan baris-berbaris.

Fenomena ini memicu pertanyaan besar: Mengapa pendidikan tinggi yang mengutamakan kebebasan berpikir harus diawali dengan disiplin baris-berbaris di kawasan militer?.


Dalih Disiplin dan Penangkalan Culture Shock

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, berdalih bahwa pelibatan TNI sangat penting untuk membentuk karakter peserta agar siap menghadapi tantangan di luar negeri, terutama dalam menangkal culture shock atau gegar budaya. Selain itu, muatan disiplin dan nilai kebangsaan dianggap sebagai "jangkar" agar para mahasiswa ini tidak lupa untuk kembali dan mengabdi ke tanah air.

Pihak LPDP melalui Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi, M. Lukmanul Hakim, juga menekankan bahwa kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK) ini bukanlah program baru dan bertujuan untuk membekali mental serta etika peserta.


Investigasi Lapangan: Bukan Bela Negara, Tapi Tetap Ketat

Meski LPDP bersikeras bahwa ini bukan pelatihan bela negara, detail pelaksanaan di lapangan menunjukkan pola yang sangat militeristik:

  • Lokasi Steril: Kegiatan dipusatkan di Lanud Halim Perdanakusuma pada 4-9 Mei 2026.
  • Pembatasan Komunikasi: Peserta wajib mematuhi tata tertib ketat, termasuk pembatasan penggunaan gawai atau handphone.
  • Aktivitas Luar Ruang: Personel TNI memandu langsung latihan baris-berbaris dan penguatan karakter atas permintaan resmi dari LPDP.

"Karantina Intelektual di Lanud Halim: Mengapa Calon Ilmuwan Dunia Harus Menginap di Tenda dan Dibatasi HP?"


Tanda Tanya Besar: Efektivitas vs Pola Pikir

Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana, menegaskan bahwa TNI hanya bersifat membantu menyediakan tempat dan pengampu materi sesuai pesanan LPDP. Namun, kebijakan ini tetap menyisakan ruang perdebatan bagi publik.

Apakah baris-berbaris adalah instrumen yang tepat untuk menyiapkan seorang peneliti menghadapi lingkungan akademik global yang liberal dan kritis? Atau, apakah pengasingan di kawasan militer dengan komunikasi terbatas benar-benar efektif menanamkan nasionalisme, atau justru sekadar indoktrinasi fisik yang melompati substansi intelektual?

Kementerian Pendidikan Tinggi dan LPDP menjanjikan evaluasi setelah kegiatan ini berakhir. Namun, bagi para awardee yang harus menjalani hari-hari di bawah instruksi militer, pertanyaan mengenai relevansi antara "sepatu lars" dan "disertasi" akan terus membayangi sepanjang studi mereka ke depan.


Apakah pola pembekalan militeristik ini merupakan cara terbaik untuk mencetak ilmuwan masa depan, ataukah ada cara lain yang lebih relevan secara akademik untuk menanamkan rasa cinta tanah air?


Sebuah OPINI : {RAMBE}



BERITA TERKAIT