Logo
CRIME WATCH.ID

Polri Terapkan Model Baru Tangani Demo: Berbasis Standar HAM Internasional, Lebih Humanis & Transparan

6008 views
Kamis, 27 November 2025 - 11:00 WIB redSVG
Polri Terapkan Model Baru Tangani Demo: Berbasis Standar HAM Internasional, Lebih Humanis & Transparan

Polri Terapkan Model Baru Tangani Demo: Berbasis Standar HAM Internasional, Lebih Humanis & Transparan. (Foto: redSVG)

Jakarta — Polri kembali membuat terobosan besar. Mulai tahun ini, seluruh penanganan unjuk rasa di Indonesia resmi memakai model layanan berbasis standar HAM internasional. Transformasi ini menjadi tonggak penting dalam reformasi keamanan publik dan menegaskan komitmen Polri untuk menjadi institusi yang humanis, modern, dan akuntabel.

Langkah ini bukan sekadar slogan. Polri memastikan bahwa seluruh protokol baru masuk ke SOP lapangan, diterapkan mulai dari tingkat Polda hingga Polres.


1. Model Penanganan Demo Kini Berbasis HAM Tingkat Global

Kabid Humas Polri menyebut bahwa standar baru ini disusun dengan merujuk pada berbagai dokumen HAM internasional, termasuk: prinsip penggunaan kekuatan (use of force),hak atas kebebasan berpendapat, hak berkumpul secara aman,serta kewajiban negara dalam melindungi warga selama aksi.

Standar internasional itu dipadukan dengan kondisi Indonesia sehingga implementasinya bisa langsung berjalan.


2. Pendekatan Humanis Jadi Kunci: Polisi Bukan Lagi “Penjaga Massa”, Tapi “Pelayan Aksi”

Model baru ini menempatkan polisi bukan sebagai pihak yang membatasi aksi, tetapi sebagai pelayan publik. Tugas mereka mengawal hak warga, memastikan demonstrasi berjalan aman, lancar, dan tidak memicu konflik.

Transformasi pendekatan terlihat dari: Dialog intensif sebelum aksi dimulai, negosiasi terbuka jika ada potensi gesekan,pengawalan massa secara proporsional, serta mencegah eskalasi tanpa kekerasan.


3. Polri: Tidak Ada Toleransi untuk Kekerasan Berlebihan

Dalam standar terbaru, penggunaan kekuatan hanya dilakukan sebagai opsi terakhir dengan prinsip: harus perlu, proporsional, dapat dipertanggungjawabkan.

Setiap tindakan juga wajib didokumentasikan, direkam, serta dievaluasi oleh pengawas internal.

Ini menegaskan prinsip: pengamanan harus melindungi, bukan menakuti.


4. Latihan Khusus untuk Semua Anggota: Dari Negosiasi hingga Mediasi

Untuk memastikan standar baru dipahami seluruh anggota, Polri menggelar pelatihan intensif yang mencakup:teknik komunikasi efektif,mediasi cepat di lapangan,penyelesaian konflik tanpa kekerasan, serta pengamanan berbasis risiko.

Tujuannya adalah membentuk personel yang siap menghadapi dinamika aksi massa tanpa kehilangan sensitivitas HAM.


5. Komitmen Kapolri: Polisi Harus Jadi Penjaga Demokrasi

Kapolri menegaskan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat adalah hak warga negara yang dijamin konstitusi. Polri wajib melindungi hak tersebut.

“Polri akan terus memperbaiki layanan unjuk rasa agar semakin humanis dan berstandar internasional,” demikian pesan Kapolri dalam arahannya.


6. Publik Apresiasi Perubahan Besar Ini

Langkah Polri diapresiasi luas oleh akademisi, aktivis HAM, hingga masyarakat sipil.

Penerapan standar HAM internasional dinilai:memperkuat kepercayaan publik, menurunkan potensi gesekan saat demo,dan menjadikan polisi garda terdepan penjaga demokrasi yang ramah rakyat.


Polri Masuk Babak Baru Pengamanan Aksi Massa

Transformasi ini menunjukkan bahwa Polri tidak hanya bicara perubahan—tapi benar-benar mengubah cara kerja di lapangan.

Dengan standar baru yang lebih modern, transparan, dan menghormati hak asasi manusia, Polri memasuki babak baru menjadi institusi pengayom demokrasi yang berkelas dunia.


{redSVG}


BERITA TERKAIT