Kenali 4 faktor yang mungkin menghambatmu. (Foto: {RAMBE})
Merasa buntu atau tidak puas? dan solusinya
Kebiasaan seperti salah mengartikan ketidaknyamanan saat bertumbuh, terlalu banyak berpikir, atau kurang istirahat bisa menghambatmu. Para ahli menjelaskan cara mengenalinya dan mengatasinya.
Kalau pernah menonton film animasi Kung Fu Panda, mungkin kamu pernah mendengar Po berkata: "Sudah kuduga makanku tidak maksimal!", saat melihat panda-panda lain rakus dalam hal makan. Meskipun sebenarnya mampu mengisi mulutnya dengan 40 pangsit dalam sekali lahap, dia sadar kalau selama ini dia menahan diri.
Kalimat ini kedengarannya lucu dan realistis karena kamu mungkin pernah berada di posisi tersadar seperti itu juga. Mungkin kamu merasa baik-baik saja, tetapi pada saat-saat tertentu, kamu ternyata pernah menahan diri dari pencapaian optimal. Penghalang besar itu dapat berupa sistem keyakinan, perilaku, bahkan kebiasaan.
Mungkin dalam bentuk keenggananmu dalam mencoba hal baru karena dapat merusak apa yang sudah kamu bangun, atau karena menarikmu keluar dari zona nyaman. Atau bahkan sesederhana membolehkan dirimu untuk beristirahat. Kalau kamu ingin memenuhi potensimu, berikut hal-hal yang dapat kamu lakukan. Tentunya, tanpa perlu pangsit tadi.
1. TAKUT TIDAK NYAMAN MENGHAMBAT PERTUMBUHANMU
Perasaanmu setiap malam Minggu, atau malam sebelum hari kerja dimulai, menjadi barometer penilaian seberapa sesuai pekerjaanmu dengan keinginanmu dalam hidup. Kalau kamu merasa super lelah, cemas, atau merana setiap Minggu malam, sepertinya pekerjaan tersebut tidak sesuai.
Namun demikian, tidak semua hal yang tidak nyaman disebabkan oleh ketidakcocokan. Misalnya, saat memulai kebiasaan baru (seperti latihan fisik, diet, pekerjaan ataupun rute bus baru), kamu pasti cenderung tidak melanjutkannya dan kembali ke kebiasaan lama.
Itu karena otak kamu sudah dirancang untuk pelit dalam mengeluarkan energi ekstra untuk aktivitas yang tidak mengancam pertahanan dirimu, tulis Profesor Bruce Wilson, seorang psikolog praktik swasta di Australia, pada laman Psychology Today.
Mengambil jalan baru ke kantor tentu tidak mengancam jiwa, tetapi otak harus bekerja ekstra untuk mengingat setiap belokan baru. Akibatnya, otak mencoba menarikmu dengan membuatmu merasa tidak nyaman akan rute baru itu ("Ah rasanya jalan ini lebih panjang dari biasa").
Dan terkadang, rasa tidak nyaman juga menunjukkan bahwa kamu sedang melalui masa berkembang. Praktisi psikologi positif Nicole Glisson menceritakan kembali pengalamannya sebagai pemimpin senior, di mana dia selalu merasa tidak nyaman. "Saya meragukan setiap keputusan saya, menghadapi percakapan yang sulit, dan memegang tanggung jawab yang lebih berat dari sebelumnya. Sebagian dari diri saya ragu apakah saya sudah berada di posisi yang tepat," ucap Glisson, kini menjabat sebagai direktur akademik di The School of Positive Psychology.
"Yang membuat saya terbantu adalah ketika saya sadar bahwa meski ada rasa tidak nyaman, ada semangat, makna, dan rasa tumbuh darinya. Perbedaan itu menjadi kuncinya, dan begitu saya menyadarinya di satu aspek kehidupan, saya jadi lebih mudah mengenalinya di aspek lainnya."
Maka, pertanyaannya adalah: Bagaimana cara kita tahu kalau kita sedang mengalami masa perkembangan diri, bukan karena kita tidak cocok terhadap sesuatu?
"Pertumbuhan cenderung membuat rasa tidak nyaman namun ada manfaat," jelas Glisson. "Ada upaya, namun juga ada rasa kemajuan, pembelajaran, dan keselerasan dengan hal yang berarti." Dia melanjutkan bahwa ketidakcocokan sering kali membuat orang "merasa terkuras energinya seiring waktu, seakan-akan kita semakin jauh dari diri kita sendiri, alih-alih semakin dekat pada diri sendiri.
Petunjuk berguna lainnya, menurut Glisson, adalah apa yang terjadi setelah berhasil melewati tantangan itu semua. "Proses bertumbuh sering kali memberikan kita bahan refleksi, pelajaran baru, bahkan rasa bangga dalam hati. Ketidakcocokan sering kali meninggalkan rasa frustrasi, diskoneksi, atau kebencian terus menerus."
APA YANG BISA KAMU LAKUKAN
Glisson berpendapat bahwa rasa tidak nyaman perlu dinormalisasi. "Sering sekali, kita menafsirkan rasa tidak nyaman itu sebagai pertanda untuk kita menarik diri daripada memperhatikan lebih lanjut." Berikut dia menyebutkan beberapa panduan yang dapat membantu mengatasi kecenderungan diri untuk kembali ke zona nyaman:
- Kenali apa yang sedang terjadi – Mengakui "ini hanya tidak nyaman dalam proses bertumbuh" dapat menciptakan ketenteraman jiwa.
- Pecah menjadi kecil – Kamu tidak harus mengambil lompatan jauh; kamu boleh melakukannya secara bertahap.
- Renung – Tanya pada diri kamu, "Apa saja yang baru kuketahui tentang diri saya saat ini?" Cara ini dapat membantu kamu mengubah pengalamanmu menjadi wawasan baru.
- Tetap berkoneksi – Proses tumbuh akan lebih sulit jika dilakukan secara sendiri-sendiri. Dengan menjalin koneksi yang berkualitas, kamu akan memperoleh dukungan dan pandangan baru.
- Beri waktu – Kita baru bisa mengambil pelajaran jika kita memberi jeda yang cukup untuk mencerna yang kita alami daripada membiarkannya lewat begitu saja.
Pada saat yang bersamaan, orang tidak selalu dapat berkembang atau bertumbuh secara terus menerus, kata Glisson. "Pertumbuhan yang berkelanjutan itu bukan soal intensitas, melainkan ritme. Kita perlu ada siklus antara usaha dan juga istirahat."
Menerima rasa nyaman yang mengiringi pertumbuhan juga akan lebih mudah jika kita mengaitkan prosesnya dengan sesuatu yang berarti bagi kita. "Ketika proses belajar dihubungkan dengan tujuan, manfaat atau sosok yang kita impikan, kita akan semakin mudah untuk terbiasa dengan rasa tidak nyaman," jelas Glisson.
"Dan akhirnya, menyayangi diri sendiri menjadi hal yang esensial. Proses tumbuh tidak selalu berjalan lurus. Ada saatnya maju, saatnya ragu, dan saatnya mundur. Itu bukan gagal, melainkan bagian dari prosesnya."
Pada akhirnya, tujuannya bukan untuk menghilangkan rasa tidak nyaman, tambahnya, melainkan untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengannya. "Untuk menyadari bahwa terkadang, hal yang kita rasa sulit justru menjadi gerbang menuju diri kita yang sesungguhnya."
2. KAMU MERASA TIDAK ENAK HATI SAAT MENGINGINKAN LEBIH
"Bagi sebagian besar, hidup tidak sedang dalam krisis; tetapi baik-baik saja," kata Jana Dawson, wakil CEO The School of Positive Psychology. "Kita hadir, memenuhi ekspektasi, peduli dengan orang lain, dan menjalankan aktivitas seperti biasa. Secara kasatmata, tidak ada yang salah.
Tetapi, tetap saja kamu merasa ada yang mengganjal ketika ada sesuatu yang hilang dari kehidupan atau dapat ditingkatkan – dan kamu pun merasa sungkan untuk membicarakan ini. Apa yang harus diprotes ketika kamu sudah punya gaji tetap dan kamu bisa bayar tagihan dan menafkahi diri?
Dawson tidak sepakat dengan pandangan bahwa kamu harus "berjuang payah" untuk mencari alasan untuk berubah. "Saya percaya kalau hal itu sudah merupakan hak kita sebagai manusia untuk tumbuh dan berkembang, bukan karena ada yang salah, tetapi karena ada yang lebih mungkin untuk diwujudkan." Sebagai contoh, Dawson menyebutkan tentang seseorang yang kariernya baik-baik saja, tetapi perlahan kehilangan semangat dalam bekerja. "Orang tersebut bukan berarti sedang lelah maupun kurang semangat."
Salah satu penjelasan yang dapat menjelaskan ini adalah keberhasilan eksternal kita tidak selaras dengan kesejahteraan internal kita, kata Dawson. Keduanya tidak tumbuh beriringan, tegasnya. "Secara eksternal, kita fokus pada pencapaian. Sementara secara internal, penopang kesejahteraan kita berupa makna; rasa bahwa apa yang kita lakukan sekarang bermakna dan selaras dengan apa yang menurut kita berharga."
Permasalahan terjadi ketika "lingkungan kerja mengagungkan jabatan dan pengakuan". "Akan tetapi, kesejahteraan jangka panjang lebih erat kaitannya dengan hubungan, dan kualitas jalinan kita dengan orang lain," tambahnya, merujuk pada "saat di mana kita merasa tertarik, semangat, dan larut dalam pekerjaan." "Ketika yang difokuskan dalam bekerja hanya hasil, semangat kerja itu akan hilang."
APA YANG BISA KAMU LAKUKAN
Kehidupan bahagia dan mencukupi menurut temanmu tidak selalu sama dengan pandanganmu. "Memahami seperti apa bentuk kehidupan yang sejahtera dapat dimulai dengan kesadaran, refleksi, pengetahuan dan penelusuran," terang Dawson. "Meski kita tidak dapat langsung mengartikannya, kita dapat mulai belajar untuk merasakannya."
Menurutnya, kita dapat mulai dari pertanyaan yang sederhana. Apakah kehidupan saat ini berarti bagi saya? Apakah kehidupan ini masuk akal bagi saya? Kapan saya merasa semangat sekali dan kapan saya merasa kurang energi? "Pertanyaan-pertanyaan ini tidak perlu dijawab saat ini. Pertanyaan tersebut ada untuk menjeda, merenung dan perlahan membentuk kehidupan yang lebih selaras, lebih terarah, dan pada akhirnya, menjadi milik kita."
Dawson melihat kebahagian sebagai "kesejahteraan subjektif" dan "sejatinya personal". Jika kamu sedang mencari pedoman, telusuri bagaimana "memupuk emosi positif, aktif dalam berbagai kegiatan, mencari makna, membina hubungan, dan mengejar sasaran yang selaras dengan nilai dan kekuatanmu" dapat meningkatkan indeks kebahagiaanmu.
"Namun, itu bukan formula yang dapat serta merta kita terapkan," Dawson menyorotinya. "Masing-masing dari kita punya jenjang kehidupan, konteks budaya, tanggung jawab, dan pengalaman hidup sendiri yang menjadi bahan pertimbangan. Yang dirasa berarti bagi seseorang dapat berbeda bagi lainnya. Sehingga, 'kehidupan bahagia' tidak dapat kita tiru begitu saja. Tetapi kita sendiri yang menentukannya."
Namun, bukan berarti kamu harus menentang keberhasilan dari luar juga. "Pencapaian dan ambisi memang menjadi kekuatan positif," kata Dawson. "Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah kita turut mengupayakan keadaan internal yang menunjang kesejahteraan kita. Karena ketika hal-hal ini dikesampingkan, keberhasilan besar pun tanpa diduga akan menjadi terasa hampa."
3. KAMU TERLALU OVERTHINKING
Pola perilaku overthinking ini sering kali terjadi pada pasangan, ungkap Shawn Soh, konselor senior dari TOUCH Conselling & Psychological Service. "Sebagian besar orang mengerahkan semua tenaganya untuk berbuat lebih, berencana lebih, memperbaiki lebih dan menganalisis lebih dari setiap interaksi, dan mengira cara itu akan memperkuat hubungannya nanti."
Sebenarnya, rekanmu tidak mengharap bantuan atau jawaban atas setiap masalah. "Yang ingin mereka butuhkan sebenarnya sederhana: kepastian, kehadiran, dan rasa dipedulikan," terang Soh. "Ketika kita memikirkan semua secara berlebihan, itu bukan lagi bentuk persiapan, melainkan ketakutan yang bersembunyi di balik produktivitas – takut mengecewakan, takut tidak mampu, takut kehilangan hubungan."
Kamu berpikir secara berlebihan ketika kegelisahan meningkat dan merasa seolah-olah dikejar waktu terus menerus, jelas Soh. "Kadang rasanya seperti terjebak dalam latihan mental yang terus bergerak tanpa kemajuan. Kamu mulai menyadari perulangan dari pertanyaan 'bagaimana kalau', keraguan, dan kecenderungan untuk menunda keputusan, sebab pikiranmu berputar pada masalah yang sama lagi dan lagi."
Secara fisik, kamu mungkin mengalami ketegangan di dada atau rahang, kegelisahan tidak menentu, atau perasaan cemas yang menggantung tanpa sebab, menurut Dr Alla Demutska, direktur klinik konseling dan psikoterapi di The School of Positive Psychology. "Ada yang bilang kalau rasanya seperti membeku, mati rasa, tidak bereaksi terhadap orang lain yang sekilas tampak sedang berkonsentrasi tetapi sebenarnya sedang disosiasi."
Berbeda dari pikiran berlebihan, berpikir analitis justru seperti memakai peta, sebut Soh. "Prosesnya mungkin masih melibatkan pertimbangan yang hati-hati, tetapi hasilnya kita mendapat kejelasan dan tindakan. Cara ini membantu kita mengambil keputusan dengan yakin." Ringkasnya, menurut Soh, memikirkan sesuatu secara berlebihan dapat menguras energi dan menambah rasa ragu, sementara pikiran analitis menciptakan arah, tujuan, dan dorongan.
Pikiran tersebut juga menjadi lingkaran yang tak berkesudahan, kata Dr Demutska. "Ketika kamu memikirkan semuanya secara berlebihan, hal buruk itu tidak akan terjadi – dan sistem saraf akan mencatatnya sebagai bukti kalau pikiran tersebut efektif."
Namun yang menjadi masalah adalah pikiran tersebut itu tidak mencegah apa-apa. "Dalam kebanyakan kasus, ketika kita mengambil tindakan, hasil sebenarnya tidak selalu buruk dari yang kita takutkan. Tetapi kita takkan pernah mengetahuinya karena kita tidak bertindak. Pikiran tersebut kemudian dirasa efektif karena hal buruk itu tidak pernah terjadi," ujarnya.
APA YANG BISA KAMU LAKUKAN
Tujuannya bukan untuk berhenti memikirkan sesuatu secara berlebihan, kata Dr Demutska. "Cara tersebut selalu menciptakan perulangan yang kedua, di mana kamu mulai terlalu memikirkan dirimu yang terlalu memikirkan semua, menyalahkan dirimu karena telah melakukannya, dan mencari jalan keluar dengan memikirkan itu semua secara berlebihan. Cara ini justru memperparah keadaan, alih-alih menyelesaikan."
Sebaiknya, selesaikan masalah pada fisik terlebih dahulu. Dia menyarankan bahwa ketika kamu sudah mengenal gejala saat pikiran mulai berputar-putar, cari tahu apa yang sedang terjadi pada tubuh kamu. "Dari mana tekanan itu berasal? Bagaimana pernafasanmu saat ini? Apakah ada desakan yang dirasakan oleh tubuh yang tidak selaras dengan apa yang sedang terjadi di depan saat ini?"
Dalam banyak kasus, desakan yang kamu alami saat memikirkan sesuatu secara berlebihan timbul karena merasa harus mengantisipasi bahaya yang sebenarnya tidak ada, kata Dr Demutska. Jadi, setiap kali perulangan itu mulai kembali, sadarkan dirimu dengan bernafas.
Saat fisik kamu sudah mulai teratur, Demutska menganjurkan untuk mengevaluasi hal-hal berikut:
- Tanya pada diri kamu apakah yang membuatmu cemas – Biasanya, bukan apa yang kamu pikirkan, tetapi apa yang kamu khawatirkan akan terjadi.
- Kenali rasa takut itu sespesifik mungkin – Sering kali, ketika diutarakan dengan jelas, rasa takut tidak seburuk dari yang pikiran kita takutkan.
- Cermati jenis informasi yang muncul dalam pikiran kamu – Jika kamu mengulang-ulang informasi meskipun sudah memahami situasinya dengan matang, itu bukan karena butuh mengingat informasi, tetapi karena ingin mengurangi rasa cemas.
"Salah satu cara paling efektif untuk membebaskan diri dari pikiran berlebihan adalah dengan mengambil tindakan, mulai dari langkah-langkah kecil yang mudah dilakukan," kata Soh. "Dengan bertindak, siklus pikiran berlebihan menjadi pecah dan menarik kita kembali ke saat ini."
Dia juga menganjurkan strategi bermanfaat lainnya dengan mengatur batasan waktu yang jelas untuk berpikir. Mungkin 10 menit, satu jam, ataupun sehari – kemudian lanjut ke langkah berikutnya ketika waktunya habis. "Cara ini mencegah kita dikuasai oleh pikiran yang berulang dan menjadikan rasa takut sebagai latihan mental yang tidak berkesudahan."
Namun, tugas sebenarnya, menurut Dr Demutska, adalah belajar hidup berdampingan dengan ketidakpastian. "Berpikir berlebihan, sejatinya, merupakan cara otak mencari jalan keluar akibat ketidaktahuan dan ketakutan jika bertindak. Semakin seseorang mampu mengembangkan toleransi terhadap ketidakpastian dan ketakutan yang menyertainya, semakin berkurang upaya pikiran kita untuk mencari jalan keluar agar merasa aman."
4. KAMU MERASA ISTIRAHAT SAMA DENGAN MALAS
TV mungkin menyala, tetapi pikiran masih tertuju pada laporan yang harus dikumpul segera. Kamu merasa seolah-olah karier kamu akan hancur kalau sehari saja kamu tidak memeriksa email. Bahkan, diam-diam kamu merasa bangga karena "selalu sigap", apalagi jika usahamu berhasil membawamu pada jabatan dan promosi kerja.
Situasi seperti ini dikenal sebagai performance identity (identitas performatif), kata Stephen Lew, ahli psikoterapi dan pendiri The School of Positive Psychology. "Banyak orang terbiasa menilai harga diri dari pencapaian, produktivitas, dan hasil."
Di Singapura, lanjutnya, identitas tersebut diperkuat oleh narasi warisan, seperti "Jangan jadi beban atau gagal" dan "Kalau kamu tidak ada kontribusi, kamu akan mudah digantikan".
Lew menambahkan bahwa orang yang produktivitasnya didorong oleh rasa bersalah enggan melimpahkan pekerjaannya kepada orang lain sebab mereka takut dilihat sebagai sosok yang lemah, tidak berkomitmen, atau beban bagi orang lain. "Faktor-faktor ini mungkin menjelaskan mengapa mereka cenderung tetap masuk kerja walau sakit. Hal ini tidak selalu menyangkut soal dedikasi atau ketahanan, melainkan tentang melindungi identitas, pandangan, dan harga diri."
Menurut Lew, ada juga faktor-faktor yang lebih mendalam seperti kecanduan pada kesibukan. "Kesibukan membuat orang merasa terkendali, penting, dan terstruktur. Kesibukan juga menjadi semacam tameng dari aspek hidup lainnya, yang mengalihkan mereka dari pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam tentang makna, identitas, dan tujuan."
Misalnya, ketika seseorang berhenti bekerja, "pikiran, emosi, dan rasa tidak nyaman yang masih mengganjal muncul dalam benak mereka," kata Lew. "Alhasil, mereka memilih sibuk agar tidak perlu berhadapan dengan diri sendiri. Kesibukan telah menjadi pengalih perhatian yang efektif, mekanisme koping, dan strategi bertahan hidup."
APA YANG BISA KAMU LAKUKAN
Menurut Lew, langkah pertamanya adalah kamu harus mencintai diri sendiri dan menerima diri sendiri. "Banyak orang berhasil melakukannya tetapi tidak pernah berhenti sebentar untuk mengakui itu semua dengan sepenuhnya." Misalnya, kamu masih menyimpan keyakinan kalau kamu masih belum cukup berusaha; Alhasil, tidak satupun pencapaian dapat mengisi kepuasanmu.
Cara ini juga membantu kita dalam mengubah cara pandang kita terhadap istirahat. "Ketika kita melabeli istirahat sebagai suatu kemalasan, hal itu menciptakan ketidakseimbangan emosional dan membuat pemulihan menjadi lebih sulit," kata Soh.
Dia menekankan bahwa jenis istirahat, baik pasif maupun aktif, juga penting. "Istirahat pasif, seperti menggulir postingan tanpa henti atau melihat video hingga berjam-jam, terkadang dapat menguras energi atau merasa bersalah."
Sebaliknya, istirahat aktif bersifat memulihkan dan meliputi kegiatan seperti berjalan di tengah alam, menghabiskan waktu bersama orang tercinta, atau menggeluti hobi tanpa merasa harus menghasilkan sesuatu, jelasnya. "Ketika istirahat dilakukan dengan niat dan selaras dengan pemulihan, akan lebih mudah nantinya untuk menerima istirahat sebagai kebutuhan daripada pemanjaan diri."
{rambe}