HARU! Kisah Polwan Sikka Sisihkan Gaji Demi Anak-anak Miskin, Aksi Nyata Polisi Humanis Bikin Tersentuh
HARU! Kisah Polwan Sikka Sisihkan Gaji Demi Anak-anak Miskin, Aksi Nyata Polisi Humanis Bikin Tersentuh. (Foto: RAMBE)
Kisah Inspiratif Polwan NTT: Dari Anak Desa, Kini Kembali Bantu Sekolah
SIKKA – Di tengah sorotan publik terhadap berbagai isu penegakan hukum, muncul sosok polisi wanita yang justru menghadirkan wajah lain institusi kepolisian. Ia adalah Aiptu Veronika Kolidin (43), anggota Polres Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang diam-diam menyisihkan sebagian gajinya untuk membantu anak-anak kurang mampu.
Pagi itu, Rabu (11/3/2026), Veronika terlihat keluar dari gerbang Polres Sikka dengan seragam lengkap. Mengendarai motor matic merah, ia membawa sebuah kantong plastik besar berisi tas sekolah yang akan dibagikan kepada siswa di SDK Waiara, Kecamatan Kewapante.
Namun, perjalanan itu bukan sekadar kunjungan biasa.
Dari Kantor Polisi ke Sekolah, Misi Sunyi Tanpa Sorotan
Di tengah rutinitas sebagai aparat penegak hukum, Veronika memilih menjalankan “misi kemanusiaan” secara mandiri. Ia tak membawa tim, tak pula menunggu program resmi.
Sebelum menuju sekolah, ia sempat berhenti di minimarket untuk membeli sembako—beras, gula, hingga mi instan—yang nantinya akan disalurkan kepada keluarga kurang mampu di Desa Kajowair.
Tak berhenti di situ, ia juga membeli tambahan perlengkapan belajar di toko alat tulis, memastikan bantuan yang diberikan benar-benar bermanfaat.
Semua dilakukan dari kantong pribadi.
Kembali ke Sekolah Lama, Menghidupkan Harapan
SDK Waiara bukan tempat asing bagi Veronika. Di sekolah itulah ia pernah menimba ilmu pada 1991 hingga 1996.
Kedatangannya disambut hangat oleh guru dan siswa. Bahkan, ia kembali bertemu dengan gurunya dulu, Maria Alfonsa, yang kini menjabat sebagai kepala sekolah.
Di hadapan para siswa, Veronika tidak hanya membagikan tas dan alat tulis. Ia juga berbagi kisah hidupnya—tentang masa kecil yang penuh keterbatasan.
Ia bercerita bagaimana dulu membawa bekal sederhana seperti ubi dan jagung bakar, hingga harus menimba air dari sumur sepulang sekolah.
Cerita itu bukan nostalgia semata.
Melainkan pesan kuat: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Bukti Nyata Polri Hadir dengan Hati
Apa yang dilakukan Veronika menjadi potret nyata bahwa kehadiran Polri tidak hanya sebatas penegakan hukum, tetapi juga menyentuh sisi sosial masyarakat.
Langkah ini sejalan dengan semangat Polri Presisi yang tidak hanya responsif terhadap keamanan, tetapi juga peduli terhadap kondisi sosial warga.
Di tengah berbagai tantangan, aksi sederhana namun konsisten seperti ini justru memperkuat kepercayaan publik.
Kepala SDK Waiara, Maria Alfonsa, menyebut Veronika sebagai sosok inspiratif. Dari seorang anak desa sederhana, kini menjadi anggota Polri yang kembali untuk memberi.
Lebih dari Sekadar Bantuan
Tas sekolah, buku tulis, dan sembako mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi anak-anak di Waiara, itu adalah harapan.
Dan bagi publik, ini adalah pesan kuat bahwa masih banyak anggota Polri yang bekerja dengan hati—tanpa kamera, tanpa pencitraan.
Di balik seragam dan tugas negara, ada sisi kemanusiaan yang sering luput dari sorotan.
Aiptu Veronika menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu harus melalui operasi besar atau penindakan hukum.
Kadang, cukup dengan satu tas sekolah dan niat tulus—dampaknya bisa jauh lebih besar.
Dan dari Sikka, sebuah pesan sederhana menguat:
Polri tidak hanya menjaga keamanan, tapi juga menjaga harapan.
{RAMBE}