Logo
CRIME WATCH.ID

“Indonesia Tidak Mau Jadi Objek!” — Menlu Sugiono Ungkap Strategi Diplomasi RI di Tengah Dunia ‘Abu-abu’

5601 views
Kamis, 15 Januari 2026 - 10:18 WIB RAMBE
“Indonesia Tidak Mau Jadi Objek!” — Menlu Sugiono Ungkap Strategi Diplomasi RI di Tengah Dunia ‘Abu-abu’

“Indonesia Tidak Mau Jadi Objek!” — Menlu Sugiono Ungkap Strategi Diplomasi RI di Tengah Dunia ‘Abu-abu’. (Foto: RAMBE)





Indonesia memperkuat landasan politik luar negeri realistis dan siap menghadapi tekanan global di tengah dinamika dunia yang semakin tidak bisa diprediksi. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Sugiono dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri 2026, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia kini memilih diplomasi ketahanan sebagai fondasi utama kebijakan luar negerinya.

Menurut Sugiono, tatanan global kini bergerak ke ruang “abu-abu” yang berbahaya — konteks di mana batas antara perdamaian dan perang makin kabur, sementara aturan internasional yang selama ini menjadi pilar stabilitas dunia sering disalahgunakan demi kepentingan nasional sempit. Dalam suasana seperti ini, Indonesia ditantang untuk tidak hanya bereaksi, tetapi justru siap, waspada, dan realistis dalam merumuskan kebijakan diplomatiknya.


🧭 Dari Idealisme Menuju Realisme Diplomasi

Sejak era kemerdekaan, landasan politik luar negeri Indonesia bertumpu pada prinsip bebas aktif — bukan sekadar tidak berpihak, tetapi aktif mencari perdamaian, keadilan dan kerjasama internasional. Namun kondisi geopolitik global yang kini semakin kompetitif dan fragmentasi antarnegara yang tajam memaksa negeri ini menempatkan realisme strategis sebagai fokus utama.

Sugiono menegaskan bahwa dalam politik luar negeri Indonesia, kesiapsiagaan dan kewaspadaan adalah kunci agar negara tidak menjadi sekadar objek dari perubahan global, tetapi tetap memiliki kemampuan mengendalikan nasibnya sendiri. Realisme ini berarti Indonesia harus kuat secara internal — baik dalam ekonomi, keamanan, maupun ketahanan diplomatik — sebelum bisa berperan secara efektif di panggung dunia.


🤝 Diplomasi Ketahanan: Kekuatan Baru Indonesia

Diplomasi yang dibangun di atas realisme tidak serta-merta meninggalkan nilai moral atau aspirasi ideal — tetapi menekankan bahwa ketahanan nasional adalah landasan dari semua hubungan luar negeri. Hal ini tercermin dari upaya Indonesia memperkuat kerja sama strategis dengan banyak negara, memperluas dialog tingkat tinggi termasuk format dua plus dua antara menteri luar negeri dan pertahanan, serta diversifikasi hubungan ekonomi yang lebih luas.

Strategi ini sejalan dengan langkah Indonesia yang memperkuat hubungan dengan Rusia, Thailand, dan Vietnam, serta inisiatif kerja sama ekonomi global yang memperluas jangkauan diplomasi nasional — menunjukkan bahwa Jakarta ingin lebih mandiri dan bernilai tawar tinggi di tengah rivalitas besar.


💡 Apa Arti Ini Bagi Indonesia?

🔹 Indonesia tidak lagi cukup hanya bertahan secara diplomatik — tetapi siap memimpin dan menjaga stabilitas regional.

🔹 Politik luar negeri bebas aktif tetap dipertahankan, namun kini dibalut dengan strategi resilience diplomacy yang adaptif, bukan reaksioner.

🔹 Indonesia bergerak dari figur pasif menjadi lebih proaktif, memperkuat posisi tawar dan mitigasi risiko di tengah ketidakpastian global.


{RAMBE}



BERITA TERKAIT