Logo
CRIME WATCH.ID

Krisis Objektivitas Pers! Menteri HAM Sebut 80% Isi Berita Hari Ini Sudah Tidak Independen.

3004 views
Kamis, 21 Mei 2026 - 10:32 WIB {RAMBE}
Krisis Objektivitas Pers! Menteri HAM Sebut 80% Isi Berita Hari Ini Sudah Tidak Independen.

Krisis Objektivitas Pers! Menteri HAM Sebut 80% Isi Berita Hari Ini Sudah Tidak Independen.. (Foto: {RAMBE})

 

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai di Kompleks Parlemen 

Senayan, Jakarta Pusat,


BANDUNG – Dunia pers dan jurnalisme modern tanah air kini sedang berada dalam lampu kuning yang sangat serius. Sebuah pernyataan menohok dan sarat akan kritik otentik dilontarkan langsung oleh Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, terkait runtuhnya objektivitas di dalam ekosistem media massa saat ini. Tak tanggung-tanggung, Pigai secara blak-blakan menyebut bahwa mayoritas produk jurnalistik yang dikonsumsi publik setiap hari tidak lagi murni independen, melainkan telah disetir oleh berbagai kepentingan tertentu.

Kondisi distorsi informasi ini menjadi tantangan raksasa yang harus segera dibenahi demi menjaga hak asasi masyarakat dalam mendapatkan informasi yang jujur, berimbang, dan tepercaya.


Fakta Pahit Struktur Pers: Dominasi Kapital dan Bayang-Bayang Subjektivitas

Pernyataan keras tersebut dibongkar secara gamblang oleh Menteri HAM Natalius Pigai di hadapan komunitas jurnalis saat menghadiri agenda Kelas Jurnalis HAM yang diselenggarakan oleh Kementerian HAM di Kota Bandung, Jawa Barat, pada Rabu (20/5/2026).

Menurut analisis mendalam Pigai, dominasi kepentingan dalam pemberitaan nasional maupun global saat ini tidak bisa dilepaskan dari gurita struktur kepemilikan media yang mayoritas berada di bawah kendali penuh kelompok kapitalis. Intervensi ekonomi dan politik dari pemilik modal perlahan menggeser fungsi pers yang sejatinya berdiri kokoh sebagai pilar independen demokrasi.

“Hampir 80 persen isi media hari ini didominasi oleh kepentingan. Bahkan lebih dari 50 persen bersifat subjektif. Ini tantangan besar bagi objektivitas,” tegas Menteri HAM Natalius Pigai dengan nada lugas di hadapan para peserta.


Dilema Jurnalis: Terjepit Di Antara Idealisme dan Tekanan Sistem

Kondisi ini, lanjut Pigai, secara otomatis melemparkan para jurnalis lapangan ke dalam situasi yang sangat dilematis. Di satu sisi, kode etik profesi menuntut jurnalis untuk bekerja secara independen, jujur, dan berpihak pada kebenaran publik. Namun di sisi lain, mereka dipaksa hidup di dalam ekosistem ruang redaksi (newsroom) yang tak sepenuhnya bebas dari belenggu kepentingan pemilik korporasi.

Akibat tekanan kapital yang masif ini, ruang publik yang seharusnya menjadi tempat pertukaran gagasan yang sehat, edukatif, dan mencerahkan, kini justru berpotensi besar terdistorsi oleh agenda-agenda terselubung kelompok tertentu.

Meski memaparkan borok dunia pers, Menteri HAM secara bijak menegaskan bahwa dirinya tidak menyalahkan jurnalis secara personal. Ia sadar betul bahwa persoalan utama mengakar pada sistem makro dan kepemilikan media itu sendiri.


Integritas Wartawan Jadi Benteng Terakhir Kepercayaan Publik

Merespons situasi krisis objektivitas ini, Kementerian HAM mendorong agar para jurnalis tetap memegang teguh marwah jurnalisme yang sehat. Terlebih, saat ini ada kecenderungan kuat di mana media lebih gemar mengedepankan konten-konten bernuansa negatif demi sekadar mengejar klik, viralitas, dan menarik perhatian pembaca secara instan.

Di akhir arahannya, Natalius Pigai menitipkan pesan mendalam bahwa di tengah badai intervensi kapital, moralitas dan integritas individu dari para kuli tinta adalah benteng pertahanan terakhir yang tidak boleh runtuh.

"Di tengah situasi seperti ini, integritas wartawan menjadi kunci. Tanpa itu, sulit menjaga kepercayaan publik," pungkas Natalius Pigai sebagai seruan pengingat bagi masa depan pers Indonesia.

Langkah Kementerian HAM dalam merangkul komunitas pers melalui Kelas Jurnalis HAM ini menjadi bukti nyata bahwa negara hadir untuk terus mengasistensi dan mendukung para jurnalis agar tetap berani menyuarakan kebenaran secara objektif, berkeadilan, dan bebas dari jerat dikte kelompok kapitalis.


{RAMBE]



BERITA TERKAIT