Logo
CRIME WATCH.ID

Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo Bongkar Taktik Senyap Ekstremisme Digital: Ratusan Anak Indonesia Terjebak Ruang Radikal, Densus 88 Siapkan Strategi Khusus!

6983 views
Jumat, 22 Mei 2026 - 14:09 WIB {redSVG}
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo Bongkar Taktik Senyap Ekstremisme Digital: Ratusan Anak Indonesia Terjebak Ruang Radikal, Densus 88 Siapkan Strategi Khusus!

Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo Bongkar Taktik Senyap Ekstremisme Digital: Ratusan Anak Indonesia Terjebak Ruang Radikal, Densus 88 Siapkan Strategi Khusus!. (Foto: {redSVG})

FENOMENA GUNUNG ES!

Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol. Dedi Prasetyo. 


JAKARTA – Lanskap ancaman terorisme dan ekstremisme di Tanah Air telah mengalami pergeseran radikal yang sangat mengerikan. Tidak lagi selalu mengandalkan mobilisasi organisasi besar yang mudah dipetakan, para pelaku sel teror kini bergerilya secara senyap menyusup ke ruang-ruang digital. Fenomena ini menjadi lampu kuning bagi masa depan bangsa, terutama dalam melindungi generasi muda dari doktrin kekerasan internet.

Merespons ancaman tersebut, Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Komisaris Jenderal (Komjen) Pol Dedi Prasetyo menegaskan bahwa Korps Bhayangkara bersama Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri tengah menyusun strategi khusus yang berlapis demi memutus mata rantai radikalisme berbasis algoritma media sosial.


Ekstremisme Modern: Bergerak Tanpa Struktur dan Bersifat Glocal

Dalam keterangannya, Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo membeberkan bahwa pola gerakan ekstremisme masa kini jauh lebih terfragmentasi. Mereka bergerak melalui individu perorangan (lone wolf) atau kelompok-kelompok kecil tanpa adanya struktur organisasi formal, sehingga pergerakannya menjadi lebih samar.

Dedi juga menyebut ancaman ini bersifat glocal, sebuah kondisi di mana arus informasi radikal berskala global mampu bertransformasi dengan cepat memengaruhi dinamika sosial di tingkat lokal melalui media digital.

"Ancaman tidak lagi selalu hadir dalam bentuk organisasi besar yang mudah dipetakan, tetapi berkembang melalui ruang digital, simpatisan lepas, hingga jejaring yang dibentuk oleh algoritma. Oleh karena itu, strategi kita juga harus berubah. Arus informasi bergerak cepat dan dapat memengaruhi lingkungan sosial dalam waktu singkat," urai Komjen Pol Dedi Prasetyo dikutip dari Antara.


Data Ngeri Densus 88: Ratusan Anak Terpapar Doktrin True Crime & Radikalisme!

Jenderal Bintang Tiga tersebut menyoroti betapa rentannya generasi muda Indonesia saat ini terhadap paparan ekstremisme dan normalisasi kekerasan di dunia maya. Ruang digital yang tidak terfilter dengan baik membuat anak-anak di bawah umur menjadi target empuk cuci otak para doktrinator radikal.

Bukan sekadar asumsi, ketakutan ini diperkuat oleh data resmi yang dirilis oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri per tanggal 19 Mei 2026. Angka statistik menunjukkan realitas yang sangat mencengangkan:

  • 115 Anak tercatat telah resmi bergabung ke dalam komunitas True Crime Community (TCC) yang menyerempet konten kekerasan ekstrem.
  • 132 Anak terdeteksi nyata telah terpapar paham radikalisme yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Komjen Dedi Prasetyo memperingatkan bahwa angka yang tercatat ini harus dipahami sebagai fenomena gunung es. Jumlah riil di lapangan berpotensi jauh lebih besar, sehingga tindakan intervensi dan pencegahan mutlak dilakukan sejak awal sebelum berubah menjadi ancaman teror yang nyata.


Densus 88 Luncurkan Pendekatan Ekologi Berlapis: Benteng Bersama dari Rumah hingga Sekolah

Guna menumpas taktik senyap ini, Wakapolri telah menginstruksikan jajaran Densus 88 Antiteror Polri untuk menerapkan metode penangkalan baru, yakni pendekatan ekologi berlapis. Strategi ini tidak lagi hanya fokus pada penindakan hukum (hard approach), melainkan membangun sistem perlindungan semesta yang mengintegrasikan berbagai elemen kehidupan anak.

Sistem benteng bersama ini akan menyatukan pertahanan di sektor:

  1. Lingkungan Keluarga
  2. Institusi Sekolah
  3. Komunitas Sosial & Tokoh Agama
  4. Pemerintah Daerah & Akademisi
  5. Platform Digital & Masyarakat Sipil

Sinergi utuh ini menjadi harga mati karena Polri menyadari bahwa perang melawan ideologi ekstremisme digital tidak akan pernah bisa dimenangkan oleh satu institusi saja.

"Ancaman ekstremisme tidak dapat diputus oleh satu institusi. Ia harus dihadapi melalui sinergi utuh antara Polri, kementerian, pemerintah daerah, sekolah, keluarga, dan masyarakat. Keamanan masa depan dibangun melalui kolaborasi," pungkas Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo menutup arahannya secara tegas.


{redSVG}


BERITA TERKAIT